Guru Agama, Motor Bina Damai

Guru Agama, Motor Bina Damai


Titik Firawati

Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM

AGAMA m e ru p a kan sumber per damaian sekaligus sumber pertikaian.

Sering kali kita mendengar bahwa agama menjadi alat pendamai saat dua pihak atau lebih berseteru (Abu-Nimer, 2010). Konflik yang diwarnai kekerasan di Poso dan Ambon, misalnya, masing-masing berakhir dengan perjanjian Malino I dan II--kesepakatan yang salah satu penggagasnya berasal dari tokoh Islam dan Kristen di kedua wilayah.

Pun, tidak jarang agama dijadikan sebagai alat pembenaran oleh seseorang atau sekelompok orang dalam memerangi satu sama lain (Abu-Nimer, 2010). Akhirakhir ini, serentetan peristiwa bom bunuh diri di Tanah Air menunjukkan betapa rentannya ajaran agama digunakan sebagai fondasi pembenaran atas klaim kelompok-kelompok tertentu dalam memaksakan kepentingan mereka.

Sisi gelap agama juga bisa kita saksikan melalui insiden konflik kekerasan antarkelompok agama yang terjadi dalam kurun waktu 12 tahun belakangan ini. Menurut data penelitian kekerasan kolektif di Indonesia (1990-2003), konflik berdasarkan garis pemilah Islam-Kristen adalah konflik paling mematikan jika dibandingkan dengan konflik berdasarkan garis pemilah etnis atau konflik antara pemerintah pusat dan kelompok pemberontak (Varshney et al, 2010).

Bagaimana guru agama menanggapi kenyataan yang saling bertolak belakang ini?
Guru agama dan ajarannya, tanpa mengabaikan arti penting bidang studi lainnya, memiliki peran sentral dalam membentuk moral setiap individu, yang pada akhirnya moral ini akan membentuk wajah bangsa Indonesia yang penuh damai atau yang penuh permusuhan.

Berikut ini beberapa alasan penting mengapa pendidikan agama mempunyai arti khusus dalam membentuk moral individu dan mewujudkan bina damai di masyarakat.

Pertama, pendidikan agama merupakan jembatan yang menghubungkan seseorang tidak hanya dengan sesama manusia dan alam sekitarnya, tapi juga menghubungkannya dengan Sang Khalik. Kedua, pendidikan agama menjadi nakhoda bagi anak didik dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Ketiga, pendidikan agama merupakan daya pendorong terciptanya bina damai.

Ketiga alasan itu tidak dimiliki bidang studi lainnya.
Ada sejumlah pihak yang berpendapat pelajaran sosial lainnya, seperti pendidikan kewarganegaraan (PKn), bisa berperan sama seperti pendidikan agama, yaitu menjadi pegangan bagi anak didik untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk atau menumbuhkan perdamaian di masyarakat. Akan tetapi, PKn tidak menyediakan tempat bagi peserta didik untuk memenuhi kebutuhan spiritual, selain kebutuhan duniawi mereka.

Atau ada beberapa pihak lainnya yang beranggapan mata pelajaran eksakta, seperti matematika, fisika, dan kimia, mempunyai peran lebih unggul daripada pendidikan agama. Mereka memandang pasar tenaga kerja justru lebih membutuhkan kemampuan berhitung. Namun, apakah konflik yang berbasis agama yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia bisa diselesaikan dengan pelajaran berhitung?
Itulah mengapa guru agama dan ajaran-ajarannya di sekolah menduduki tempat khusus bagi upaya perdamaian dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Maka dari itu, agama sebagai sumber perda maian perlu, bahkan h a r u s , guru agama g e n carkan melalui pemahaman dan penerapan nilai agama yang mendukung bina damai dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu, antara lain, keadilan, ke setaraan, pemaafan, kesabaran, toleransi, menghormati, dan menyayangi.

 


Meski demikian, mewujudkan nilai-nilai baik ini tidak mudah karena sering terbentur oleh berbagai macam kendala yang hingga kini masih dihadapi para guru agama.


Contohnya, beban kurikulum nasional cenderung memberatkan guru, termasuk guru agama. Mereka sering kerepotan mengurusi apa yang bisa diberikan dan murid terapkan dari pelajaran agama yang hanya 2 jam dalam seminggu.

Beban kurikulum pada akhirnya dapat menghambat kreativitas guru agama karena mereka tidak punya cukup ruang untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan materi ajaran dan strategi pengajaran yang cocok dengan kebutuhan sosial dan spiritual anak didik.
Rangkaian aktivitas belajarmengajar seperti ini membutuhkan waktu tidak sedikit dan perumusan ulang kurikulum yang lebih realistis.

Belum lagi sikap guru agama yang belum terbuka sepenuhnya terhadap kemajemukan yang ada. Sikap tertutup biasanya mengarah pada ajaranajaran yang--dengan atau tanpa disadari--menyebarkan rasa permusuhan dan kebencian kepada kelompok lain yang berbeda agama.

Masalah lainnya ada lah kesejah teraan guru agama, khususnya guru agama di sekolah-sekolah swasta, yang tidak memadai.
Tidak manusiawi bila seorang guru agama yang hanya mendapatkan `gaji' sekitar Rp200 ribu per bulan atau kurang dari jumlah tersebut dituntut memenuhi beban kurikulum yang sudah cukup memberatkan itu.

Bagaikan seekor kerbau yang tidak makan sehari, sekeras apa pun dorongan pemiliknya supaya kerbau itu membajak sawah, sang kerbau tak kan menggerakkan kakinya barang sejengkal. Artinya, sekukuh apa pun sikap Kementerian Agama memotivasi guru agama agar bekerja lebih serius, hasil akhirnya mungkin akan sia-sia saja. Selama terganjal oleh urus an perut, mereka akan sulit tergerak untuk berbenah diri apalagi memikirkan persoalan-persoalan besar menyangkut perdamaian di Indonesia. Dalam situasi yang problematis seperti itu, apa yang bisa dilakukan guru agama dalam rangka bina damai? Masalah kesejahteraan dan beban kurikulum, seperti yang telah disebutkan, bersifat sistemik.
Solusinya sangat bergantung pada kemauan pemerintah.
Oleh karena itu penyelesaiannya pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Ter lepas dari apakah persoalan tersebut bersifat sistemik atau tidak, guru-guru agama harus berpacu mengupayakan kerja-kerja di bidang bina damai, mengingat kemajemukan bangsa Indonesia berpotensi menimbulkan konflik kekerasan.

Salah satu pendekatan yang paling memungkinkan untuk mereka coba adalah mengintegrasikan nilai-nilai bina damai ke dalam pelajaran agama.
Pendekatan tersebut tentu saja perlu didukung strategi pengajaran yang sesuai dengan topik pembahasan, kebutuhan anak, dan fasilitas pendukung.

Contoh topik pembahasan yang penting dipahami anak a didik, dalam konteks masyarakat majemuk, adalah toleransi. Pembahasan tole ransi tidak hanya sebatas pada toleransi dalam kelompok se agama, tapi juga dengan kelompok yang berlainan agama. Topik itu sangat mencerminkan arti bina damai yang mengacu kepada individu-individu yang secara aktif menggerakkan perdamaian di masyarakat.

Contoh strategi pengajar an yang mengutamakan as pek pemahaman dan apli kasinya, sekaligus murah dan menyenangkan, adalah meminta murid mengunjungi keluarga teman mereka yang berbeda agama dan kemu dian membuat cerita sing kat satu halaman yang berisi bagaimana keluarga tersebut mengembangkan sikap toleransi da lam keluarga dan masyarakat.

Pendekatan lainnya yang juga bisa dilaku kan guru agama adalah terlibat aktif dalam memba n g u n seko l a h EBET yang damai (peaceable school). Guru agama berinisiatif menjadi salah satu anggota atau mengetuai `komite' yang menggagas, merancang, memonitor, dan mengevaluasi ide sekolah yang damai. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan dampak positif yang menjangkau sekolah secara menyeluruh. Ide tersebut perlu diwujudkan dalam bentuk norma, kebijakan, dan statuta (AD/ART) sekolah untuk memastikan setiap warga sekolah mengimplementasikan nilainilai damai dan nirkekerasan di lingkungan sekolah.

Di tengah impitan berbagai persoalan dan tantangan yang guru-guru agama hadapi, ada secercah harapan bahwa mereka sedikit demi sedikit menunjukkan sikap terbuka terhadap pembaharuan. Sikap tersebut setidaknya ditunjukkan peserta Kursus Intensif Bina Damai yang diadakan pada 1-8 Juli 2011 oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (Lakip) Jakarta dan Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM di Yogyakarta.
Mereka yang hadir dalam kursus intensif tersebut terdiri dari 25 guru agama dari SMP dan SMA (swasta/negeri) seJabodetabek dan Yogyakarta.

Para peserta mengaku mempelajari hal-hal baru dan menarik yang menurut mereka belum pernah diperoleh sebelumnya. Empat komponen utama kurikulum kursus adalah mengelola kemajemukan, memahami konflik dan kekerasan, mengeksplorasi upaya-upaya bina damai di level individu, keluarga, sekolah, dan masyarakat, serta mengembangkan peran guru agama dalam bina damai.

Manfaat kursus intensif itu semakin terasa setelah setiap peserta membuat rancangan kerja pribadi yang menurut rencana akan mereka lakukan pascakursus. Misalnya, ada yang berencana berkolaborasi dengan guru yang berbeda agama untuk mengembangkan kurikulum pengajaran agama yang terbuka bagi segala bentuk perubahan zaman.

Akhirnya, karena sisi gelap agama telah membuat bangsa Indonesia bertikai satu sama lain, sudah menjadi tugas mulia guru agama mengajarkan nilai-nilai bina damai agar penderitaan akibat pertikaian itu tidak terulang kembali di masa mendatang.
 

Add comment


Security code
Refresh

Aktivitas Kami
RCK - Pengenalan Internet (1)
RCK - Pengenalan Internet (2)
RCK - Pengenalan Internet (3)
RCK - Pengenalan Internet (4)
RCK - Pengenalan Internet (5)
RCK - Pengenalan Internet
RCK - Pengenalan Komputer (1)
RCK - Pengenalan Komputer (2)
RCK - Pengenalan Komputer (3)
RCK - Pengenalan Komputer (4)
RCK - Pengenalan Komputer (5)
RCK - Pengenalan Komputer (6)
RCK - Pengenalan Komputer (7)
RCK - Pengenalan Komputer (8)
RCK - Pengenalan Komputer (9)
RCK - Pengenalan Komputer
Modul Khusus Anggota
Login Register





Masuk
Create an account