Tahapan Pendirian Radio Komunitas

TAHAPAN PENDIRIAN RADIO KOMUNITAS

Terdapat 5 Tahapan dalam pendirian Radio Komunitas, yaitu :

Tahap I :  Tahap Sosialisasi Pendirian dan Pembentukan Panitia

Pada tahap ini, yang harus dilakukan adalah :

  1. Rancang pertemuan dengan seluruh warga atau perwakilan warga atau perwakilan komunitas yang akan menjadi target layanan radio komunitas yang akan kita buat
  2. Uraikan dalam pertemuan tersebut tentang kebutuhan akan adanya media untuk penyampaian informasi
  3. Uraikan juga dalam pertemuan tersebut mengenai Radio komunitas sebagai salah satu media informasi dan manfaat yang didapatkan jika didirikan radio komunitas.
  4. Uraikan juga kemudahan dalam melakukan pengelolaan Radio Komunitas
  5. Bila sepakat untuk didirikan radio komunitas, segera lakukan pembentukan Panitia dengan memastikan  seluruh komponen masyarakat/komnuitas  terwakili dalam kepanitiaan
  6. Lakukan penggalangan dana dalam bentuk apapun, dalam jumlah berapapun dengan partisipasi dari seluruh masyarakat/anggota komunitas
  7. Galang dukungan tanda tangan masyrakat/warga/anggota komunitas yang berisi pernyataan mendukung pendirian radio komunitas dengan minimal tandatangan sebanyak 250 tanda tangan.

Tahap II :  Tahap Pembangunan Pemancar dan Studio

  1. Pastikan pada tahapan ini, kebutuhan minimal perangkat siaran sudah didapatkan
  2. Libatkan seluruh komponen masyarakat/anggota komunitas dalam proses pembangunan Pemancar dan studio
  3. Bila Perangkat Pemancar dan studio sudah selesai dibangun, maka kerja Panitia Pembangunan selesai, dan hasilnya diserahkan kepada masyarakat untuk selanjutnya melakukan pembentukan Dewan Penyiaran Komunitas (DPK) yang bertindak sebagai Lembaga Legislatif dan Pengawasan, serta pembentukan  Badan Pelaksana Penyiaran Komunitas (BPPK) yang bertindak sebagai Lembaga eksekutif.

Tahap III :  Tahap Pembentukan DPK dan BPPK

  1. Untuk tahapan ini, buat kesepakatan seluruh masyarakat/anggota komunitas untuk menentukan siapa yang akan duduk dalam jajaran DPK yang bertugas menentukan kebijakan pengelolaan radio Komunitas dalam semua aspeknya
  2. Pada tahapan ini pula, buat kesepakatan seluruh masyarakat/anggota komunitas untuk menentukan siapa yang akan duduk dalam jajaran BPPK yang bertugas dalam melakukan pengelolaan radio Komunitas dan melakukan penyusunan  program penyiaran sesuai dengan arahan kebijakan yang diputuskan oleh jajaran DPK
  3. Susunan kepengurusan BPPK dalam standard umum organisasi radio komunitas adalah : Ketua BPPK, Sekretaris, Bendahara, Ketua Bidang Penyiaran, Ketua Bidang Pemberitaan, Ketua Bidang Teknik,Ketua Bidang Administrasi dan Umum
  4. Aspek yang terpenting dalam tahapan ini adalah memastikan bahwa seluruh komponen yang ada dalam komunitas harus terwakili dalam kepengurusan

Tahap IV :  Tahap Penyusunan dan Implementasi Program Siaran

Pada tahapan ini lakukan penyusunan hal-hal yang terkait aktivitas siaran, antara lain :

  1. Tetapkan waktu siaran yang paling realistis dari sisi ketersediaan sumber daya. Usahakan minimal 4 jam per hari
  2. Indentifikasi karakteristik komunitas, kebutuhan komunitas, keberadaan kelompok atau lembaga dalam komunitas untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan program siaran
  3. Susun program siaran menjadi Program Informasi (30%), Program Edukasi (55%), Program Hiburan (10%), dan Iklan Layanan Masyarakat (5%)
  4. Lakukan penetapan petugas penyiar dengan mendayagunakan seluruh sumber daya yang ada di masyarakat/komunitas, misalnya : Siaran Kesehatan dihandle oleh kader Posyandu, Siaran Keluarga dihandle oleh kader PKK, Siaran remaja dihandle oleh karang taruna, Siaran Religius dihandle oleh DKM Musholla, Dan lain sebagainya ...
  5. Kumpulan seluruh media yang dapat dijadikan sebagai materi siaran, misalnya Buku, majalah, koran, internet, siaran TV, Selebaran, brosur, risalah pertemuan warga,
  6. Indentifikasi pihak-pihak yang dapat dijadikan sebagai nara sumber dalam kegiatan siaran
  7. Gali segalan informasi yang berkaitan dengan sejarah dan aktivitas lokal untuk dijadikan sebagai bahan siaran
  8. Berikan keyakinan kepada seluruh warga komunitas bahwa siapa saja biasa siaran, sepanjang tidak memiliki cacat bisu tuli.
  9. Hal terpenting dalam tahapan ini adalah aspek implementasi program siaran yang telah disusun bersama.
  10. Program Penyiaran dilakukan dengan hanya melalui frekuensi yang memang diperuntukkan untuk radio komunitas, yaitu pada frekuensi FM 107.7 Mhz s/d FM 107.9 Mhz

Tahap V :  Tahap Penyususan dan Implementasi Rencana Keberlanjutan

Pada tahapan ini lakukan penyusunan rencana keberlanjutan dan memastikan aspek impelemntasi berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan.  Aspek keberlanjutan tersebut diantaranya adalah :

1.  Aspek Sumber Daya Manusia,

melakukan pelatihan baik pelatihan internal maupun external

memberikan reward kepada personil yang terlibat, misalnya pemberian sertifikat, ID card Pers, ID card Penyiar, utusan mewakili lembaga

2.  Aspek Kuangan

galang dana dan Sponshorship untuk dana operasional

Pembuatan dan penawaran Iklan Layanan Masyarakat kepada pemerintah

Merancang program off air yang diharapkan menghasilkan dana sisa hasil kegiatan

3.  Aspek Legal

Menggalang dukungan dari aparat pemerintahan setempat untuk berkenan menerbitkan surat rekomendasi.

Mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk melakukan pengurusan perijinan ke KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah)

 

Jika tahapan-tahapan pendirian Radio Komunitas mengikuti tahapan tersebut di atas, diharapkan dapat memudahkan pengurus radio komunitas untuk melakukan penyusunan dokumen kelayakan pendirian Radio Komunitas sebagai salah satu dokumen yang dipersyaratkan dalam pengajuan perijinan, serta dapat memastikan lulus uji verifikasi faktual di lapangan untuk selanjutnya masuk ke tahapan Evaluasi Dengar Pendapat untuk mendapat Rekomendasi Kelayakan mendapatkan IPP (Izin Penyelenggaraan Penyiaran)

 

Beberapa hal yang menyebabkan Mati-nya Radio Komunitas yang sudah berhasil didirikan, di antaranya adalah :

1. Masalah Sumber Daya Manusia

Beberapa hal terkait Sumber Daya Manusia yang dapat menjadi penyebab matinya Radio Komunitas antara lain adalah :

Pengurus Organisasi baik di DPK (Dewan Penyiaran Komunitas) maupun di BPPK (Badan Pelaksana Penyiaran Komunitas) banyak yang tidak menjalankan Tugas dan Kewajiban sesuai dengan jabatan yang diamanahkan kepada mereka.  Karena Radio Komunitas adalah organisasi sosial yang tidak berorientasi komersial,  maka pengurusnya juga tidak mendapatkan honor.  Akibatnya, dengan alasan kerja sosial, kewajiban di kepengurusan menjadi hal yang tidak diutamakan.   Kesibukan kerja mencari nafkah keluarga menjadi alasan utama.  

Personil Penyiar yang merupakan ujung tombak dari Radio Komunitas, juga banyak yang belum bisa bersikap profesional dengan seenaknya saja meninggalkan tugas siaran.   Jika ditegur, ngambek dan tidak mau siaran lagi dengan alasan ”memangnya saya digaji berapa ? koq dimarahin gara-gara gak bisa siaran.

Personil di BPPK (Badan Pelaksana Penyiaran Komunitas) yang menduduki posisi sebagai Penyiar juga sering merasa menjadi “Orang Yang Paling Penting” dalam organisasi Radio Komunitas.

Para Personil Rakom yang bertugas menjadi Penyiar, banyak yang enggan melakukan tugasnya jika hanya diberikan waktu siaran di bukan waktu Prime Time.  Apalagi buat Penyiar yang sudah masuk kategori “Penyiar Favorite”, enggan bersiaran jika tidak di waktu prime time.

Para Personil Rakom yang bertugas menjadi Penyiar, juga banyak yang enggan menjadi Penyiar Program Non Hiburan.  Tidak suka menjadi penyiar Talkshow atau penyiar informasi, lebih suka menjadi penyiar yang memutarkan Program Musik atau Program Lagu-lagu pilihan pendengar.  Padahal sejatinya, Radio Komunitas harus membawa misi Edukasi dan Informasi.

 

2.  Radio Komunitas hanya tempat singgah sementara ketika belum mendapat pekerjaan

Karena konsep Radio Komunitas adalah Radio Non Komersial, maka para personilnya tentu saja tidak mendapatkan honor.  Para personil yang sudah menyelesaikan sekolah atau kuliah, biasanya bergabung di radio Komunitas hanya sekedar mengisi waktu luang sambil menunggu panggilan kerja. Umumnya mereka akan meninggalkan Radio Komunitas begitu mereka mendapatkan pekerjaan .  Mereka yang sebelumnya aktif di Radio Komunitas,  akhirnya segera meninggalkan Radio Komunitas dengan alasan sudah sibuk kerja. 

3. Kaderisasi yang kurang

Kaderisasi juga menjadi salah satu penyebab matinya Radio Komunitas.  Ketika ada personil Penyiar atau Crew Proses Produksi Siaran yang menyatakan tidak aktif lagi, radio komunitas kesulitan untuk mencari pengganti karena personil yang ada merasa diri mereka belum memiliki kapasitas untuk bersiaran atau untuk melakukan proses produksi siaran. 

4. Keterbatasan Personil Perbaikan dan Pemeliharaan Perangkat Siaran

Perangkat Siaran seperti Pemancar dan Perangkat Studio terkadang mengalami kerusakan dan membutuhkan perbaikan.   Ketiadaan personil yang memiliki kemampuan untuk melakukan perbaikan juga terkadang menjadi penghambat kegiatan siaran. Ketika Perangkat siar mengalami kerusakan dan memaksa radio komunitas untuk off air, terkadang menyebabkan penyiar menjadi malas untuk memulai kembali aktivitas siaran ketika perbaikannya membutuhkan waktu lama karena ketiadaan personil yang dapat melakukan perbaikan dengan segera. 

5. Masalah Biaya Operasional

Masalah Biaya Operasional juga menjadi penyebab matinya radio komunitas.  Untuk melakukan kegiatan siaran, paling tidak dibutuhkan biaya untuk pembayaran listrik, konsumsi penyiar selama siaran (minimal air putih), biaya pembelian CD/VCD Musik, serta biaya perbaikan dan pemeliharaan perangkat.

Masalah pemberian honor juga menjadi masalah tersendiri.  Banyak yang merasa bahwa jika 1 orang diberikan honor, maka yang lainnya juga harus diberikan honor.  Jika semua harus diberikan honor, darimana didapatkan dananya ?

Usaha untuk mencari sumber dana pembiayaan pengelolaan radio harus dilakukan dengan keras.   Iklan produk komersial jelas tidak dapat dijadikan sumber pendanaan, karena Radio Komunitas dilarang menyiarkan iklan.  Penawaran iklan layanan masyarakat ke instansi pemerintah sering tidak mendapatkan respon positif mengingat daya jangkau Radio Komunitas hanya boleh memancar pada radius 2.5km. 

Mengharapkan iuran dari crew sangat sulit dilakukan, karena crew yang ada sudah merasa berkorban waktu tanpa dibayar untuk menjalankan radio Komunitas.

Kupon permintaan lagu saat ini sudah tidak dapat dijadikan media pengumpulan dana, walaupun bisa, jumlahnya sangat tidak memadai.

6. Masalah Teknologi Perangkat Siaran

Sejatinya Radio Komunitas tidak mensyaratkan perangkat siar yang modern dan canggih.   Perangkat Pemancar hanya diperbolehkan menggunakan pemancar berkekuatan 25watt.  Perangkat studio juga dapat menggunakan mixer sederhana dan pemutar lagu juga bisa menggunakan VCD player biasa.  Namun banyak personil penyiar yang merasa tidak pede ketika mereka harus melakukan siaran di ruang studio yang perangkatnya adalah perangkat seadanya. 

7. Runtuhnya Idealisme

Runtuhnya idealisme juga menjadi penyebab matinya Radio Komunitas.  Berbagai syarat dalam pengelolaan Radio Komunitas,  jelas membutuhkan semangat idealisme para pengelolanya.  Idealisme terberat dalam mengelola Radio Komunitas adalah keharusan tidak menjadi Partisan dari kelompok tertentu, Keharusan menyiarkan pola siaran yang memberikan porsi besar untuk materi informasi, pendidikan dan iklan layanan masyarakat,  serta larangan untuk menyiarkan siaran iklan.

Runtuhnya idealisme ditandai dengan diterimanya permintaan penyiaran iklan komersial, program siaran tidak lagi memperhatikan pola siaran antara Program Edukasi , Informasi, Hiburan dan Iklan Layanan Masyarakat, isi siaran hanya pemutaran lagu-lagu, menerima order penyiaran materi kampanye saat pilkada, serta mulai terpikir untuk merubah Radio Komunitas menjadi Radio Komersial.

Sejatinya, ketika idealisme tersebut di atas sudah runtuh, maka matilah Radio Komunitas.

 

Beberapa hal yang harus dilakukan bila ingin menjaga keberlangsungan Radio Komunitas yang sudah berdiri

Pendirian dan pengelolaannya harus benar-benar melibatkan seluruh unsur komunitas yang ada, sehingga ada kekuatan dan rasa tanggungjawab yang sama untuk nantinya bersama-sama mempertahankan radio komunitas yang sudah berdiri.

Program siaran yang dibuat harus benar-benar mengakomodasi seluruh komponen yang ada di komunitas.  

Harus meyakinkan semua yang terlibat dalam pengelolaan radio Komunitas bahwa semua memiliki peran yang sama pentingnya dalam organisasi.  Tidak ada satu bagian yang lebih penting dari bagian yang lainnya.  Penyiar tidak lebih penting dari teknisi bahkan tidak juga lebih hebat dari petugas jaga studio.

Jadikan semua orang yang terlibat dalam pengelolaan Radio Komunitas sebagai penyiar.  Sampaikan bahwa syarat menjadi penyiar hanya satu : Tidak Bisu.   Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari ketergantungan terhadap 1 atau 2 orang sebagai penyiar.  Bila di sekitar studio terdapat sekolah, lakukan kerjasama pengelolaan dengan pihak sekolah dengan memberikan hari khusus kepada pihak sekolah untuk dapat memanfaatkan studio radio untuk kepentingan Belajar para siswanya, misalnya untuk media praktek bahasa inggris, kegiatan prakteknya diwujudkan dalam bentuk siaran dalam bahasa inggris.  Bila ada sekolah TK, bisa dijadikan sebagai wadah anak-anak TK melakukan kegiatan bernyanyi bersama atau perform setiap siswa yang disiarkan melalui pemancar radio.  Intinya, bagaimana caranya agar banyak pihak yang dapat memanfaatkan keberadaan radio komunitas untuk berkegiatan dan dari sisi pengurus radio dapat meringankan beban mencari penyiar yang harus melakukan siaran secara tetap.

Program siaran yang dibuat harus memperhitungkan aspek sumber daya yang ada.  Jika memang sumber dayanya terbatas, jangan memaksakan untuk melakukan penyiaran dalam durasi waktu yang lama.  Lebih baik melakukan siaran 2 – 4 jam sehari tetapi kontinue dan bermutu, daripada memaksakan melakukan siaran selama 12 jam tetapi hanya diisi dengan pemutaran lagu-lagu saja.

Lakukan kegiatan Berjaringan Dengan radio komunitas lainnya melalui wadah Jaringan Radio Komunitas yang ada di setiap kota.  Berjaringan dapat meningkatkan rasa kebersamaan antar Radio Komunitas, serta dapat saling bertukar informasi dan ilmu yang berkaitan dengan Radio Komunitas. 

Gali sebanyak mungkin sumber-sumber yang dapat menjadi sumber pendanaan.  Lakukan lebih banyak kegiatan Off Air yang bekerjasama dengan pihak lain  sebagai pihak sponsor.  Sisihkan sedikit dana sponsor pada kegiatan Off Air tersebut untuk biaya operasional radio.   Buat sebanyak mungkin materi Iklan Layanan Masyarakat untuk kemudian ditawarkan ke instansi pemerintah yang memiliki anggaran untuk dana Iklan Layanan Masyarakat.   Gandeng pengusaha lokal di sekitar studio atau yang berada dalam jangkauan siaran Radio Komunitas untuk mau menjadi sponsor tetap dengan biaya yang terjangkau dengan kompensasi diberikan “semi adlip” iklan.  Biaya terjangkau itu misalnya dengan hanya Rp. 25ribu per bulan.

Selalu mengingatkan kepada seluruh pengelola Radio Komunitas bahwa radio komunitas adalah media untuk melakukan kegiatan sosial.  Jangan berharap kaya dari radio komunitas, jangan berharap mendapatkan keuntungan material dari aktivitas di radio komunitas.

 

Note : tulisan di atas termuat di majalah BroadcastMagz edisi No.10 Tahun 1 - Mei 2012

 

 

 

Comments  

 
0 #3 dodi ahmad 2014-10-22 06:05
Mohon Bantuan satu paket Pemancar Fm Radio Komunitas Di Kabupaten Jeneponto,Disin i Blum ada Radio Pemancar FM sementara Kondisi daerah kami sangat membutuhkan Radio pemancar FM agar dapat diakses ke seluruh penduduk di daerah kami,...salam...untuk info hubungi email kami,atau di nomor handphone 082344692969...

salam
Best Regard

Dodi Ahmad
Quote
 
 
-1 #2 Rakom Petani MJBS FM 2013-01-05 13:08
Muhammad Nur MJBS FM 2013-01-05 13:03
mohon bantuan hibbah satu paket pemancar fm radio komunitas 50 watt untuk www.mjbsfm.blogspot.com by m.nur mjbs fm email: hp.085370641972 :D :D :sigh: :sigh:
Quote
 
 
0 #1 Muhammad Nur MJBS FM 2013-01-05 13:03
mohon bantuan hibbah satu paket pemancar fm radio komunitas 50 watt untuk www.mjbsfm.blogspot.com by m.nur mjbs fm email: hp.085370641972 :D :D
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Aktivitas Kami
RCK - Pengenalan Internet (1)
RCK - Pengenalan Internet (2)
RCK - Pengenalan Internet (3)
RCK - Pengenalan Internet (4)
RCK - Pengenalan Internet (5)
RCK - Pengenalan Internet
RCK - Pengenalan Komputer (1)
RCK - Pengenalan Komputer (2)
RCK - Pengenalan Komputer (3)
RCK - Pengenalan Komputer (4)
RCK - Pengenalan Komputer (5)
RCK - Pengenalan Komputer (6)
RCK - Pengenalan Komputer (7)
RCK - Pengenalan Komputer (8)
RCK - Pengenalan Komputer (9)
RCK - Pengenalan Komputer
Modul Khusus Anggota
Login Register





Masuk
Create an account