^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

RAGAM KULINER -SAAT BERHAJI

Menu Kuliner di asrama Haji

Urusan makanan adalah salah satu hal yang paling banyak menjadi perhatian jamaah haji indonesia. Sejak dari tanah air, hampir sebagian besar jamaah haji mempersiapkan bekal makanan yang bernuansa indonesia. Hal ini dikarenakan banyak sekali informasi yang beredar bahwa banyak makanan di tanah suci yang tidak cocok dengan perut orang indonesia.

Banyak juga pesan yang disampaikan oleh teman, kerabat, dan kolega yang pernah berangkat haji, bahwa nanti selama di tanah suci harus siap untuk menyantap apapun makanan yang disediakan oleh petugas haji. Enak atau tidak enak harus disantap tanpa ada keluh kesah. Kata yang sering diucapkan untuk mengingatkan kita adalah “hati-hati berucap ..... kalo bilang tidak enak, bisa jadi nanti selama di tanah suci akan benar-benar tidak ada makanan yang berasa enak ....” hmmmm, serem banget.

Kami juga mempersiapkan bekal dari tanah air untuk mengantisipasi menu makanan yang tidak selera dengan lidah kami. Untuk bekal lauk, kami meminta ibunda kami untuk membuatkan menu lauk yang dapat tahan lama, dan tentunya menjadi favorit kami, yaitu Sambal kacang teri medan. Tidak lupa beberapa bekal tambahan kami siapkan dari tanah air, diantaranya adalah kecap dan sambal instant sachet.

Pengalaman pertama Kuliner haji dimulai dari Asrama Haji Kota Bekasi. Santap perdana di Asrama Haji adalah sarapan pagi. Usai mandi pagi, kami menuju ke ruang makan yang disediakan di asrama haji. System Makan yang disiapkan oleh petugas asrama haji bekasi adalah system prasmanan terbatas.

Mengapa terbatas ? karena setiap jamaah haji tidak diperbolehkan mengambil makanannya sendiri, kecuali nasi.   Sayur dan lauk akan diberikan oleh penyaji makanan. Porsinya bagaimana ?? hmm .... untuk yang suka makan dengan porsi sayur dan lauk yang banyak, jumlah porsi yang diberikan oleh penyaji adalah porsi dengan jumlah yang sedikit. “Mirip porsi orang sakit” begitu kata beberapa jamaah haji.

Usai mengambil makanan, kami kemudian membawa makanan pada tempat duduk yang telah disediakan. Tidak ada meja makan, yang tersedia hanya kursi tanpa meja. Di ujung ruangan tersedia beberapa kursi dengan tambahan meja lipat seperti kursi di ruangan kuliah. Jadilan untuk yang badannya “besar” agak repot untuk menggunakan kursi makan jenis tersebut.

Makanan siap kami santap, dan saat suapan pertama masuk mulut, komentar atas rasa makanan tersebut adalah “hambar – tak terasa bumbunya ......”   Beberapa jamaah berkomentar

“ini bener-bener menu rumah sakit baik dari sisi porsi maupun rasa ....”

 

Semua jamaah haji yang ada di asrama haji mulai berpikir bahwa memang benar adanya bahwa salah satu kesabaran yang dituntut harus dimiliki oleh seorang jamaah haji adalah kesabaran untuk menerima menu makanan apa adanya, baik dari sisi jenis sayur dan lauk, maupun dari sisi rasanya.

Untuk masalah menerima apa adanya menu yang tersedia, rupanya sudah dimulai dari asrama haji yang lokasinya masih di tanah air.   Semua jamaah sempat terpikir “ ditanah air saja menu makanannya seperti ini .... apalagi di tanah suci ......”

Saya sendiri memutuskan untuk membuka bekal teri kacang yang saya bawa di tes tentengan kami. Ini perlu saya lakukan agar memastikan saya mendapatkan asupan makanan yang cukup. Dimana untuk memastikan nasi yang ada bisa tersantap, saya membutuhkan tambahan penambah aroma, dan itu saya dapatkan dari Teri Kacang yang saya bawa. Teri kacang buatan mama tercinta memang luar biasa, bumbu dan kriuk kacang tanah serta teri medan mampu menggugah selera makan kami.

Alhamdulillah, setiap kali makan dan menambahkan teri kacang sebagai tambahan lauk, saya dapat menghabiskan porsi makanan dengan lahap dan tuntas. Ini penting untuk menjaga kesehatan saya.

Saat waktu makan siang tiba, menu yang disajikan tidak jauh berbeda. Menu makanan masih terdiri Nasi, 1 Macam Sayur, 2 jenis lauk kering, kerupuk, dan buah. Soal rasa ? hmmmm … masih tetap hambar seperti makanan rumah sakit … ha ha ha …

Jadilah pada sore hari menjelang sholat ashar, saya sempatkan untuk mencari selingan makanan di kantin asrama haji.  Menu Indomie dengan tambahan telur dan bakso, serta segelas kopi mocca kesukaan saya, habis saya santap pada sore hari itu dan langsung bergegas menuju ke masjid untuk menjalankan ibadah sholat ashar.

Menu Semangkok Indomie Baso dan segelas Kopi Mocca sepertinya menjadi menu paling nikmat yang saya santap ketika berada di Asrama Haji Kota Bekasi. Harga semangkok Indomie dan segelas kopi itu harganya hampir 2 kali lebih mahal dibandingkan harga normal di warung indomie pinggir jalan.

Sampai pada tahapan ini, hampir seluruh jamaah haji memiliki keyakinan bahwa bahwa Menu Masakan yang disajikan di Asrama Haji, adalah upaya pemerintah untuk “membiasakan makan dengan menu dan rasa seadanya “ selama jamaah berada di tanah suci.

Kami beserta istri pun mengamini dan berikrar untuk siap menyantap apapun makanan yang tersedia di tanah suci. Kami berniat berhaji ke tanah suci, bukan berniat Wisata ke tanah suci …

Menu Kuliner di pesawat

Kami melakukan boarding ke pesawat pada pukul 00.30 wib di Lapangan Udara Halim Perdana Kusumah Jakarta. Alhamdulillah, Pesawat yang dijadwalkan takeoff pada pukul 01.30 wib dapat take off sesuai dengan jadwal yang direncanakan.

Perjalanan menuju Bandara King Abdul Aziz Madinah diperkirakan memakan waktu selama 9 jam penerbangan. Setelah 2 jam penerbangan, pramugara menawarkan makan malam ..... walaupun lebih tepat disebut “makan dinihari” kepada para jamaah haji. Pilihan menu yang ditawarkan adalah Menu Nasi Ayam, Nasi Daging, dan Nasi Ikan.  

Saya memilih menu Nasi Ikan. Bukan karena saya lebih suka ikan, tetapi karena saya menggunakan gigi palsu pada bagian gigi depan saya, sehingga bermasalah jika harus menggigit makanan yang keras ... ha ha ha

Minuman yang ditawarkan adalah air putih atau Juice Buah.   Saya memilih orange juice untuk meminimalisir ras ‘neg’ selama penerbangan berlangsung.

Hmmm, ketika makanan dibagikan kepada kami, semua penumpang merasa senang karena aroma makanannya begitu menggoda.   Makanan disajikan dalam kondisi panas, karena sebelumnya sudah dipanaskan di dapur pesawat. Ketika paket makanan saya buka, isinya terdiri dari 1 kotak Nasi berikut lauk ikan, 1 roti bulat, 1 cream chesse, dan 1 slice kue bolu.   Ketika saya cicipi, rasa Menu Nasi ikannya ..... sangat luar biasa enaaaak ....

Selama di pesawat, kami mendapatkan fasilitas 2 kali makan. Pada pagi hari sekitar pukul 6 sebagai makanan sarapan, dan 1 kali lagi pada sekitar pukul 11 menjelang waktu dzhuhur. Pilihan menunya masih sama, Nasi Ayam, Nasi Ikan, atau Nasi Daging.

Semuanya tetap dengan rasa dan aroma yang menggugah. Hampir tidak ada satupun makanan yang disisakan oleh para jamaah haji. Semuanya tuntas disantap para jamaah haji.   Membandingkan rasa menu makanan di asrama haji dengan di pesawat, seperti langit dan bumi ….. beda bangeeet…

Di pesawat, kami panjatkan doa agar nantinya selama berada di tanah suci, tetap mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan makanan yang sesuai dengan lidah kami, lidah bangsa Indonesia.

Menu Kuliner di Madinah

Alhamdulillah …. Itu yang kami ucapkan ketika kami mendapatkan paket makanan jamaah haji untuk pertama kalinya.   Bayangan akan mendapatkan menu makanan yang tidak cocok di lidah, ternyata tidak terbukti. Menu makanan untuk para jamaah haji pada tahun 1436 H ternyata amat sangat menggugah selera.

Makanan untuk para jamaah haji dikemas dengan menggunakan Kotak Alumunium Foil yang ditutup karton putih bertuliskan “Makan Siang” dengan logo Kementrian Agama RI.

Setiap jamaah mendapatkan 1 Box nasi, 1 Botol Air Mineral, dan 1 Buah Pisang Cavendish. Saat Box makanan tersebut kami buka ….. Alhamdulillah, menu pertama kami adalah Nasi, Daging rendang, ikan saus, dan sayuran.

Tidak hanya menu makanan, setiap jamaah haji juga mendapatkan Paket Minuman dan Pelengkap Makanan. Isi paket minuman terdiri dari Kopi instans, Teh sachet, gula sachet, serta 1 gelas dan 1 sendok untuk pengaduk.

Paket Kopi, Teh dan Gula tersebut jumlahnya masing-masing sekitar 24 pcs, atau cukup untuk dikonsumsi menemani makan selama di Madinah. Sedangkan pelengkap makanan yang diberikan adalah sambal botol dan kecap botol.

Malam hari usai sholat isya, kami mengambil jatah makan malam kami. Lagi-lagi ucap syukur Alhamdulillah kami panjatkan, karena menu makan malam kami juga tak kalah nikmatnya ……

Kami santap malam dengan menu Kari Kambing dan Cah Sayuran. Pada saat pembagian Jatah Makan Malam, setiap jamaah mendapatkan 1 Box nasi, 1 Air Mineral, 1 buah Apel, dan 1 Roti Croisant.

Saat menjalani pagi pertama di Madinah, kami kebingungan ketika menunggu jatah makan pagi kami. Ternyata Roti Croisant yang dibagikan pada malam hari tersebut adalah jatah sarapan kami. Kondisi ini menjadi masalah bagi sebagian besar jamaah haji Indonesia, karena jika belum makan nasi maka belum bisa disebut sarapan …. Ha ha ha …

Sarapan hanya dengan menyantap 1 roti croissant dan air mineral, rupanya tidak mampu mengganjal perut kami.   Jadilah pagi itu ketika toko-toko di sekitar nabawi sudah mulai buka, kami menuju ke salah satu minimarket untuk mencari pemanas air.  

Perangkat pemanas air itu akan kami gunakan untuk memanaskan air untuk membuat teh dan kopi yang pada malam kemarin dibagikan ke jamaah. Selain untuk memanaskan air, perangkat tersebut akan kami manfaatkan untuk memasak Indomie ……

Harga pemanas air tersebut adalah sebesar 30 real, atau sekitar 100 ribu rupiah. Tidak terlalu mahal untuk situasi di negeri orang.

Ketika berbelanja perangkat pemanas air, sempat menengok ke rak mie instant. Ternyata tersedia Indomie di arab Saudi. Kemasannya mirip-mirip dengan kemasan yang ada di tanah air, hanya aksaranya saja yang menggunakan aksara arab.

Menengok harganya, hmm …. lumayan juga harganya adalah sebesar 2 real atau jika dikurskan dengan uang rupiah, harganya adalah 7 ribu rupiah. Untung saja kami membawa bekal mie instant yang cukup banyak untuk bekal selama di tanah suci.

Hal yang cukup menarik adalah ketika melihat display buah-buahan. Harga 1 tray tomat ternyata jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan harga 1 tray anggur.

1 tray anggur jenis calmeria yang berwarna Hijau, harganya hanya 5 real. Kami putuskan untuk membeli anggur sebanyak 1 tray sebagai buah cuci mulut usai bersantap. Belakangan kami baru tahu jika harga anggur ini relatif murah karena tidak begitu laku dibeli para jamaah haji. Penyebabnya adalah karena anggur dianggap menyebabkan batuk pada tenggorokan.

Memiliki perangkat pemanas air, ternyata cukup membantu ketika ingin menikmati teh hangat dan kopi panas. Bekal Mie Instan yang kami bawa, ternyata benar-benar nikmat ketika disantap saat sarapan di madinah.

Hari ke 3 di Madinah, mulai terasa bosan juga jika harus menikmati sarapan mie instant. Jadilah mencoba mencari menu lain selain mie instan. Proses pencarian dimulai saat usai sholat menjalankan ibadah sholat shubuh. Di depan gerbang masjid nabawi, ada seorang laki-laki berwajah khas Indonesia yang membawa papan iklan yang menawarkan Bakso Karawang ! wow …. Ini dia yang kami cari.

Bersama istri, kami menuju ke lokasi toko penjual bakso Karawang. Lokasinya ada di sebuah ruangan di Hotel yang berada dekat Masjid Nabawi.

Sampai di lokasi, tempatnya sudah ramai dengan pengunjung yang hampir seluruhnya adalah jamaah haji asal Indonesia. Selain bakso, juga tersedia menu masakan padang. Istri tercinta ingin mencoba Bakso Karawang, sedangkan saya memilih bersantap dengan menu masakan padang.

Rasa lumayan nikmat, tapi harganya juga nikmat ….. 13 real atau setara dengan 50 ribu rupiah untuk semangkok kecil bakso, dan 10 real atau 36 ribu rupiah untuk menu makanan padang dengan lauk gulai telur.

Mahaal bangeet untuk ukuran di Indonesia. Tapi untuk sekedar melepas kangen dengan makanan tanah air, tidak apa-apa sekali-kali menyantap hidangan bakso ini. Jika tiap hari …. Ya bisa membuat kantong jebol …. Ha ha ha

Hari ke 4 di madinah, masih tetap tidak ingin sarapan dengan mie instan, namun juga tidak mau sarapan dengan menu bakso Karawang yang harganya maknyus …. Jadilah akhirnya mencari-cari informasi lokasi kuliner lainnya.

Kali ini mendapatkan informasi bahwa tepat dibelakang hotel kami, setiap pagi ba’da subuh, ada penjual makanan Indonesia yang menjual nasi uduk, nasi kuning, dan nasi rames yang dikemas dalam kemasan mika kecil, serta dijual dengan harga murah.

Tertarik dengan info tersebut, kami bergegas ke lokasi yang dimaksud. Ternyata benar saja, tepat di belakang hotel kami ada beberapa penjual makanan asal Indonesia yang menawarkan dagangannya.   “Menu sarapan pak haji ….” Kata mereka. “Murah mengenyangkan, hanya 2 real “ lanjut mereka menawarkan dagangannya.   Saya putuskan membeli 1 bungkus nasi rames dengan lauk oseng Sayur dan tahu pedas.

Ditemani secangkir teh hangat, sarapan pagi hari ke-4 saya nikmati dengan nasi rames yang murah meriah ini. Alhamdulillah, rasanya cukup enak, mengenyangkan, dan murah.

Kuliner Manca Negara

Masih soal cerita kuliner haji saat berada di Madinah, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang kuliner yang rasanya luar biasa, dan dapat menjadi alternative menu sarapan selama di madinah. Menu luar biasa itu adalah Menu Afrika …..

Ya, pagi itu saya menelusuri jalan di seberang hotel kami menginap. Di seberang jalan ternyata adalah Hotel tempat menginap jamaah Haji asal Nigeria Afrika.

Di jalanan depan hotel tersebut, saya melihat banyak pedagang makanan asal afrika. Melihat jenis masakannya, ada masakan yang mirip dengan bubur dengan kuah kari, juga ada Menu Mie yang bentuknya mirip spaggety. Untuk 2 jenis masakan tersebut, setelah mendekat dan mencium aroma kuah karinya, hmmm …. Saya mundur dan tidak berminat untuk mencicipinya.

Namun, saat bergerak ke pedagang Nigeria lainnya, ada menu masakan lainnya yang menarik perhatian saya.   Menu masakan itu adalah Gulai Ikan Patin yang dari aromanya, sangat menggoda lidah untuk mencicipinya.

Saya putuskan untuk membeli sebanyak 1 porsi Gulai Ikan Patin. Harganya 5 real atau sekitar 17 ribu rupiah untuk 1 potong ikan Patin dengan kuah karinya.

Selain Gulai Ikan Patin, ada lagi masakan Nigeria yang menggoda untuk saya cicipi, yaitu Gulai Babat Kambing. Mirip dengan Gulai Ikan Patin, sepertinya bumbu dasar yang digunakan untuk masakan ini berjenis sama.

Sayangnya, ketika ingin membeli Gulai Babat seharga 2 real untuk sekedar mencicipi rasanya, sang penjual tidak memberikannya. Saya tetap harus membeli seharga 5 real untuk 1 porsi Babat Kari. Padahal ukuran porsinya cukup banyak, dan saya khawatir tidak dapat menghabiskannya. Jadilah hanya Gulai Ikan Patin yang saya beli dan akan saya nikmati di Hotel.

Tiba di kamar hotel, langsung saya santap dengan sisa nasi makanan jatah malam. Rasanya maknyuss….. nikmat luar biasa, bumbu dengan cita rasa mirip dengan bumbu gulai masakan padang, sangat terasa di lidah.   Saya sangat merekomedasikan para jamaah haji untuk mencoba menu nikmat ini.

 

 

                           

Nikmatnya Menu Berbuka Puasa

Jamaah haji gelombang pertama akan berada di Madinah selama 8 hari untuk melaksanakan sholat arbain, yaitu sholat berturut-turut sebanyak 40 waktu. Seluruh jamaah haji akan berusaha agar ibadah sholat arbain ini dapat berjalan dengan lancar. Begitu pula dengan kami. Rutinitas kami setiap hari dimulai pada pukul 2 dinihari. Kami menuju Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat Tahajud yang dirangkai dengan sholat Fajar dan sholat Subuh.

Beberapa jamaah usai sholat subuh akan kembali ke Hotel untuk sarapan pagi, dan kembali ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat Dhuha.

Menjelang dzhuhur, jamaah haji kembali menuju masjid Nabawi untuk menunaikan sholat Dzhuhur dan segera kembali ke Hotel untuk makan siang sesudahnya.   Menjelang ashar, jamaah kembali lagi menuju ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat ashar.

Umumnya setelah sholat ashar, jamaah akan berdiam di Masjid sampai datang waktu sholat Mahgrib. Ketika usai sholat Mahgrib, jamaah juga tetap berada di Masjid Nabawi untuk menunggu waktu sholat isya. Sesudah sholat isya, barulah para jamaah kembali ke Hotel untuk makan malan dan beristirahat.

Pada saat menunggu masuk waktu sholat mahgrib di masjid nabawi, saya mendapatkan pengalaman kuliner yang tidak akan saya lupakan, yaitu pengalaman menikmati sajian berbuka puasa ala kota madinah.

Awalnya saya tidak mengetahui jika sebelum waktu mahgrib tiba, akan ada beberapa titik di masjid Nabawi yang biasanya akan digelar plastik transparan panjang sebagai tempat makanan berbuka puasa. Pada satu kesempatan, ternyata saya berada pada area yang akan digelar makanan berbuka puasa. Alhamdulillah, Jadilah saya dapat menikmati pengalaman yang unik ini.

Menu makanan yang disediakan bukanlah menu makanan berat. Sesuai sunnah nabi, menu berbuka yang wajib ada adalah kurma. Kurma yang tersedia adalah kurma muda yang disebut Ruthob. Hidangan lainnya adalah Roti khas Arab, satu cup kecil Kopi arab Qohwah, dan satu gelas air zam-zam.

Merasakan Kopi arab, buat saya minuman itu lebih tepat disebut jamu ketimbang disebut kopi ….. ha ha ha … karena rasanya yang mirip jamu.

Untuk Roti arab tersebut, walaupun tanpa isi atau topping apapun, ketika disantap, rasanya cukup gurih dan enak disantap tanpa isi atau topping apapun.

Ada rasa luar biasa ketika berkesempatan untuk menikmati hidangan berbuka puasa di Masjid Nabawi. Rasa Luar Biasa itu timbul karena kami berbuka puasa bersama dengan saudara muslim dari Negara lain.

 

Menu Jamuan Selamat Jalan

Pada hari ke 8 di Madinah, usai sudah kami menjalankan ibadah Sholat Arbain, , kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Mekkah dengan menggunakan bus. Perjalanan kami ke mekkah dilakukan dalam posisi berihram, karena kami akan melaksanakan umrah wajib setiba di kota mekkah.

Jarak antara Kota Madinah dan Kota Mekkah adalah sejauh 490 km. Lama perjalanan dari Madinah ke Mekkah dengan menggunakan bis bila ditempuh secara non stop, akan memakan waktu antara 6-7 jam perjalanan. Kami berangkat pada pukul 07.00, dengan perkiraan istirahat dilakukan sebanyak 2 kali istirahat, yaitu saat mengambil miqot di Bir Ali, dan saat makan siang di lokasi peristirahatan. Menurut petugas, kita akan tiba di Kota Mekkah pada Pukul 5 sore.

Menu makan siang pada saat dalam perjalanan dari Madinah menuju Mekkah, kami rasakan sangat istimewa. Paket makanannya diberi judul “Jamuan Makan Selamat Jalan”. Hmmm, menu makanannya adalah Nasi Kare Ayam. Menu ini adalah menu khas arab saudi. Rasanya nikmat, walaupun nasinya gurih rempah-rempah khas timur tengah. Kami nikmati Jamuan Makan Selamat Jalan ini dengan lahap.

Kisah kuliner kala berhaji ini masih berlanjut dengan kisah saat kami berada di Mekkah. Sambil menunggu jadwal armina, kami harus bermukim selama 22 hari di mekkah.

Menu Makanan di Mekkah - Juara

Alhamdulillah, selama di Mekkah kami kembali mendapatkan pemondokan haji yang ternyata adalah gedung baru, sehingga fasilitas yang ada masih berupa barang-barang baru. Lokasinya juga tidak terlalu jauh, hanya berjarak 2 kilometer ke Masjidil Haram.

Selama di Mekkah, kami mendapatkan jatah makan sebanyak 15 kali dan diberikan hanya pada saat makan siang. Ini berarti untuk makan pagi dan makan malam, kami harus menyediakan sendiri kebutuhan makan kami.

Jatah makan yang diberikan masih dalam bentuk kotak. Alhamdulillah, menu makanan yang diberikan masih sama nikmatnya dengan menu saat kami berada di Madinah. Sampai kami tiba di Mekkah, tidak ada kendala dan hambatan apapun soal makanan.

Selain nasi box, setiap jamaah juga mendapatkan Buah dan Air Mineral.   Buah yang diberikan antara lain adalah Apel, Jeruk, Pisang, dan Pear.

Menu masakan dalam box terdiri dari Nasi, 2 macam lauk, dan 1 macam Sayur. Rasanya pas dan cocok di lidah kami.   Jika dibandingkan dengan menu saat berada di asrama haji ….. hmmm …. Nasi jatah selama di Mekkah ini juara banget …..

Melongok aplikasi Haji Pintar yang dikeluarkan oleh Kemenag RI, inilah daftar menu makan siang kami selama di Mekkah :

Untuk kebutuhan makan pagi, Regu kami memutuskan untuk memasak nasi sendiri. Setiap anggota regu menyerahkan beras yang dibawa dari tanah air. Kami masing-masing membawa 10 kg beras.

Untuk memasak beras tersebut, kami masing-masing iuran uang sebesar 10 real untuk membeli penanak nasi elektrik (rice Cooker) yang harganya adalah 100 real. Kami juga bersepakat mengenai lauk-pauk yang diserahkan ke masing-masing anggota regu untuk membelinya di luar.  

Elektrik Jar yang kami beli saat di Madinah, kami manfaatkan untuk merebus mie instan yang kami bawa dari tanah air. Kecuali ketua regu kami, seluruh anggota regu kami membawa mie instan dari tanah air. Selain mie instans, masing-masing dari kami juga membawa lauk pauk tahan lama dari tanah air.

Setiap pagi dan ba’da mahgrib, di depan pemondokan kami banyak mukimin asal Indonesia yang berjualan aneka ragam lauk pauk khas Indonesia.

Hampir dipastikan Sayur dan lauk yang biasa kita santap di tanah air, dapat kami jumpai dijual oleh para pedagang asal Indonesia tersebut.   Sayur bayam, Sayur Sop, Oseng-oseng Sayur, Tahu, tempe, telur balado, ikan asin, ayam goreng, hingga sate ayam tersedia disana. Harganya antara 1 – 5 real.

Saat membeli di pasar kagetan tersebut, harus dilakukan dengan cepat. Jika tidak, bisa jadi kita tidak akan mendapatkan stok karena sudah habis terbeli oleh orang lain. Maklum saja, dalam 1 pemondokan terdapat lebih dari 20 kloter. Setiap kloter terdiri dari 450 orang jamaah haji. Bisa dibayangkan seperti apa keramaian pasar makanan dadakan tersebut.

Menu Rumahan

Untuk melepaskan kebosanan dengan menu yang dijual di pasar makanan dadakan tersebut, kami juga memutuskan untuk memasak Sayur dan lauk yang mudah dimasak.

Untuk memasaknya, kami memanfaatkan rice cooker dan Elektrik Jar yang kami miliki. Beberapa menu yang kami masak sendiri antara lain adalah Sayur bayam, mie goreng instan, telur dadar, serta telur rebus.

Kadang kami juga membeli ikan kaleng atau sarden untuk kami masak dan disantap bersama.

Bahan-bahan untuk dimasak tersebut kami beli di salah satu toko yang lokasinya tepat berada di seberang pemondokan kami.

Harga sayur-mayur di mekkah tentu saja jauh lebih mahal daripada di tanah air. Harganya bisa 3 kali lipat harga di tanah air.

Namun untuk dapat menebus rasa kangen masakan rumahan, serta menghilangkan kebosanan menyantap masakan dengan bekal lauk yang kami bawa dari tanah air, tetap kami lakukan juga aktivitas memasak kami.

 

Ketika selera makan hilang

Pada satu saat tertentu, kadang selera makan kita menjadi hilang. Sementara tubuh harus tetap diberikan asupan makanan untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh.

Kesehatan menjadi fokus Utama kami, mengingat Ritual Haji yang menjadi pokok ibadah, masih beberapa hari ke depan. Pada kondisi ini, menu makanan yang dirasakan istimewa harus kita dapatkan.

Salah satu yang menjadi favorit jamaah haji adalah Ayam Bakar Pakistan. Harganya untuk porsi ½ ekor ayam adalah 10 real atau sekitar 35 ribu rupiah. Rasanya …… maknyuss ….. nikmat sekali …

Berbelanja di Supermarket

Saat usai melaksanakan ibadah di Masjidil Haram, terkadang ketika berjalan pulang menuju pemondokan, pandangan mata tidak akan terlewatkan bangunan tower tinggi yang terkenal dengan nama Zam-zam Tower.

Di dalam bangunan Zam-zam tower terdapat supermarket yang terkenal di Arab Saudi, yaitu Supermarket Bin Dawood yang menjual aneka barang groceries dan fresh. Pada satu kesempatan, kami berbelanja buah dan juice di supermarket tersebut. Harganya relatif sama dengan toko yang ada di dekat pemondokan kami.

 

Kuliner Halalan

Bercerita soal kuliner saat berhaji, tidak lengkap jika tidak bercerita soal Kuliner Halalan. Apakah itu ?

Kuliner Halalan adalah makanan yang diperoleh jamaah haji dari para dermawan Saudi yang membagikan makanan gratis kepada siapa saja yang menginginkannya.

Bentuknya beraneka ragam. Dari yang hanya sebotol air mineral, sejumput cokelat, sebungkus korma, 1 bungkus roti, 2 butir buah apel atau pear, 1 pack minuman kotak, sampai dengan paket yang berisi aneka snack, buah dan minuman kotak. Pada beberapa lokasi tertentu, pemberian halalan tersebut dapat berupa paket makanan berat berupa Nasi Kebuli dengan Potongan besar Daging Ayam atau Daging Kambing.

Kenapa disebut Halalan ? karena pada saat memberikan paket makanan atau snack tersebut, biasanya pihak pemberi akan menyerukan kepada jamaah kata-kata .. “”Halal …. Halal …” yang artinya makanan tersebut dibagikan gratis untuk siapa saja yang menginginkannya.

Sejatinya makanan tersebut adalah salah satu bentuk sedekah dari orang dermawan untuk mereka yang membutuhkannya. Namun pada setiap kali ada kegiatan halalan, banyak sekali jamaah haji yang ikut antri untuk mendapatkan makanan sedekah tersebut.

Kami yang beberapa kali melihat kerumunan pembagian halalan tersebut, memutuskan untuk ikut dalam antrian. Bukan menyatakan diri tidak mampu dan mengharapkan sedekah, tetapi hanya sekedar ingin mengetahui apa saja jenis makanan dan minuman yang dibagikan oleh para dermawan Saudi.

Mengikuti antrian untuk mendapatkan halalan menjadi pengalaman berhaji yang menarik, unik dan tentu menyenangkan.   Dari aktivitas tersebut, juga menjadi agak miris , ketika melihat jamaah haji yang saling berebut, mengambil langsung produk halalan tanpa izin pemilik, serta tidak mau patuh mengikuti antrian.

 

Kuliner saat Prosesi Armina

Ketika waktunya tiba untuk melaksanakan ritual pokok haji, yaitu Armina (Arafah- Muzdalifah-Mina), kami bersiap untuk menjalankan ritual pokok haji tersebut. Alhamdulillah, ketika saatnya tiba, kami berada dalam kondisi yang fit dan sehat. Nafsu makan serta asupan makanan juga tetap terjaga dengan baik.

Sejak pagi hari pukul 6 pagi, kami sudah bersiap untuk diberangkatkan ke Arafah dengan menggunakan bis. Menu sarapan kami pagi itu adalah Ayam Bakar Pakistan yang kami beli pada malam harinya, dan kami sengaja simpan untuk sarapan kami sebelum berangkat ke Arafah.

Waktu tunggu untuk diberangkatkan ke Arafah cukup lama. Ini disebabkan oleh kondisi lalu lintas yang sudah mulai padat, sehingga kedatangan bis datang agak terlambat.

Alhamdulillah, akhirnya bis yang akan membawa kami ke Arafah akhirnya tiba. Perjalanan ke Arafah memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Setiba di Arafah, kami langsung di arahkan ke tenda yang sudah dikhususkan untuk jamaah haji Kloter 12 JKS Kota Bekasi.

Cuaca hari itu panas menyengat. Untuk mengantisipasi dehidrasi karena cuaca panas, setiap jamaah diberikan air mineral sebanyak 9 botol per hari. Setiap jamaah haji mendapatkan Paket Kelengkapan makanan dan minuman yang terdiri dari Teh 10 sachet, Gelas Melamin 1 buah, Creamer 15 sachet, Kecap Botol 140ml, Sambal saus 15 sachet, Gula Pasir 36 sachet.

Paket tersebut sangat membantu kami. Terkadang pada saat selera makan hilang, minuman hangat seperti teh dan kopi dapat menjadi andalan untuk mengembalikan selera makan.

Terlebih lagi prosesi Armina adalah prosesi yang panjang dan membutuhkan stamina yang luar biasa, sehingga seluruh Jamaah haji harus menjaga asupan makanan dan minuman untuk menjaga tubuh tetap sehat dan bugar.

Selama di Arafah, kami mendapatkan jatah makan sebanyak 3 kali dalam sehari. Menu yang disediakan cukup menggugah selera. Kecuali menu makanan pagi yang terdiri dari nasi, Balado Kacang, dan Kentang Goreng.  

Makan Pagi dengan kacang Balado lebih tepat dikatakan makan dengan kacang goreng gosong …. Tak terasa sama sekali bumbunya. Untuk kentang gorengnya, itu adalah kentang goreng teralot yang pernah saya makan.

Tapi ….. tetap tidak boleh mengeluh, tetap disantap dengan semangat untuk menjaga stamina. Masih ada ritual ibadah haji yang harus dilakukan.

Selain nasi box, setiap jamaah juga mendapatkan masing-masing 1 cup Mie Instant serta 1 buah apel. Bersantap dengan Mie Instan Cup rasanya sangat nikmat sekali …. Jauh lebih nikmat jika dibandingkan dengan santapan nasi box.

“Haji adalah Arafah …” itu kata-kata yang selalu diingatkan oleh pembimbing haji. Berkali-kali pula diingatkan bahwa selama berada di Arafah, seluruh jamaah haji harus memfokuskan diri untuk selalu berdoa dan berdzikir kepada Allah Subhanna Wa’ Taala.

Walaupun kondisi cuaca yang sangat luar biasa panas, kami tetap harus menjaga kondisi stamina tubuh, karena usai di Arafah, masih banyak ritual haji yang harus dilakukan.

Semuanya membutuhkan stamina tubuh yang luar biasa. Hal inilah yang membuat seluruh jamaah selalu menyantap apapun jatah makanan yang tersedia. Semuanya dilakukan hanya untuk memastikan kondisi dan stamina tubuh tetap terjaga.

Saat berada di Arafah, kami sempat melongok dapur yang digunakan untuk mempersiapkan makanan jamaah haji Indonesia. Lokasi dapur berada di Blok paling belakang.   Menempati ruangan yang sangat besar. Pekerjanya sebagian besar berasal dari india dan Pakistan.

Makanan yang sudah matang kemudian dikemas dalam Box dan didistribusikan ke seluruh jamaah dengan mekanisme Ketua Kloter mengambil untuk Kloter, dan kemudian didistribusikan ke Jamaah haji melalui ketua Rombongan.

Usai wukuf di Arafah Pada tanggal 23 september 2015, jamaah haji bersiap untuk diberangkatkan ke muzdalifah untuk melakukan mabit.

Sebelum berangkat ke muszdalifah, setiap jamaah haji mendapatkan jatah konsumsi yaitu 1 bungkus Roti, Kurma, dan Juice buah.

Kami Tiba di Muzdalifah pada sekitar jam 8 malam. Kami melakukan mabit atau bermalam di muzdalifah. Kami juga mengumpulkan batu kerikil untuk digunakan melontar saat berada di mina

 

Kuliner di Perkemahan Mina

Pemondokan selama berada di mina adalah berupa tenda. Namun tenda yang berada di Mina berbeda dengan yang ada di Arafah. Tenda di mina adalah tenda permanen, sedangkan tenda arafah adalah tenda temporer yang segera dibongkar ketika jamaah sudah meninggalkan area arafah.

Terkait dengan kuliner selama di Mina, Alhamdulillah kebutuhan makanan kami tidak mengalami kendala berarti. Selama berada di Mina, kami mendapatkan jatah makanan yang sangat baik dan dalam jumlah cukup.

 

Melongok aplikasi Haji pintar yang dikeluarkan oleh Kemenag RI, menu makan kami selama berada di Mina adalah sebagai berikut :

Makanan untuk para jamaah haji dimasak di dapur yang berada di lantai dasar. Makanan diangkat ke atas dengan menggunakan katrol bermesin. Sungguh proses yang luar biasa, mempersiapkan makanan untuk sekitar 2.000 jamaah haji.

Tidak Ingin Jajan di Mina

Aktivitas kami selama berada di mina selain melaksanakan sholat 5 waktu, yang utamanya adalah melakukan Lontar jumrah. Jarak dari pemondokan kami ke area Lontar adalah sejauh 3 kilometer, jadi perjalanan pulang pergi saat melakukan aktivitas melontar adalah 6 kilometer.

Butuh ekstra tenaga untuk melakukan aktivitas melontar jumlah. Alhamdulillah, kami selalu diberikan nikmat sehat saat melakukan aktivitas Lontar jumrah.

Dalam perjalanan pulang ke pemondokan usai melakukan aktivitas Lontar jumrah, kami melewati beberapa kios pedagang makanan. Tidak banyak ragam makanan yang dijual.

Sebagian besar menjual mie instan cup, buah, dan minuman ringan. Pada beberapa titik terdapat penjual martabak india. Harga makanan yang dijual di kawasan Mina, harganya bisa 2 kali lipat dibandingkan harga di pemondokan di Mekkah dan madinah. Hanya minuman juice dalam botol yang harganya relatif murah, hanya 2 real per botol.

Musibah yang terjadi dimina pada saat hari pertama melontar, membuat seluruh jamaah haji Indonesia berduka. Begitu juga dengan kami. Setiap kali melakukan ritual Lontar Jumrah, selalu berdoa panjang semoga tidak ada halangan dan kendala apapun. Selama berada di Mina, saat selesai melakukan Lontar jumrah, kami selalu ingin segera tiba di pemondokan kami di Mina.

kami tidak menyempatkan diri dan tidak berminat untuk membeli makanan yang dijual di pinggir jalan di depan area pemondokan kami.

Usai ritual ibadah haji di Mina, kami kembali ke pemondokan kami di Mekkah. Bersegera melakukan thawaf dan sai. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar.

Hanya beberapa hari kami berada di Mekkah, untuk selanjutnya bersiap untuk kembali ke Tanah Air. Alhamdulillah ya Allah …. Atas berkat Rahmat dan karunia-Mu, kami semua mendapatkan kesempatan berhaji di tanah suci.

Kuliner saat di Jeddah

Beberapa hari sebelum meninggalkan tanah suci untuk kembali ke tanah air, kami berkesempatan untuk melakukan city tour ke Laut Merah di kawasan Jeddah.

Salah satu lokasi yanga dikunjungi adalah Pusat Perbelanjaan Qurnis yang sangat terkenal dan menjadi salah satu destinasi jamaah haji untuk berbelanja.

Di jalan depan toko-toko di qurnis kami menjumpai banyak pedagang aneka kacang-kacangan yang digoreng sangrai. Cukup unik, karena kondisi cuaca di Arab Saudi yang memiliki kelembaban tinggi, kacang-kacang itu dijual dengan cara digelar tanpa takut melempem.

Jika ditanah air, sudah dipastikan kacang yang dijual tersebut pasti dalam keadaan melempem dan alot.

Kami berkesempatan untuk mengambil fotonya, namun tidak tertarik untuk membeli. Bukan karena rasanya yanga tidak enak, tetapi karena harganya yang mahal, yaitu 10 real atau 35 ribu rupiah untuk secungkup kacang sangrai.

Saat di qurnis kami lebih memilih menikmati makanan khas arab lainnya, yaitu Kebab. Harganya murah dan dapat dijadikan sebagai pengganjal perut yang lapar.

Berbeda dengan kebab yang ada di tanah air, di Arab Saudi selain dengan potongan daging dan sayuran, di dalam gulungan kebab juga terdapat potongan kentang goreng. Ini yang menyebabkan rasa kenyang ketika menyantap 1 paket kebab.

Sebelumnya, saat berada di Masjid Terapung di Laut Merah, kami menjumpai banyak pedagang makanan asal Indonesia. Banyak makanan sebagai pengobat kangen tanah air. Diantaraya adalah Gado-gado, pecel pincuk, Bakso Sapi, dan es campur.

Kami memilih menyantap Bakso kuah yang aromanya sangat menggoda dan harganya juga tidak terlalu mahal untuk ukuran di tanah suci, yaitu hanya 10 real per porsi.

Kuliner Selamat Jalan

Nasi Box jatah terakhir sebagai jamaah haji, kami terima saat kami berada di Bandar Udara King Abdul Aziz Jeddah. Makanan jatah terakhir tersebut diberikan di area transit menunggu jadwal pemeriksaan imigrasi dan proses boarding ke pesawat.

Menu Kuliner selamat Jalan tersebut terdiri dari Nasi, Ayaam Goreng, Ikan fillet goreng tepung, Sayur buncis dan wortel. Sebotol air mineral dan Buah Apel, menjadi pelengkap Menu Makan Selamat jalan.

Alhamdulillah, menu sajian selamat jalan ke tanah air menjadi menu yang kam isantap dengan nikmat di bandara King Abdul Aziz Jeddah.

Kuliner saat tiba di Tanah Air

Salah satu kerinduan yang amat sangat saat tiba di tanah air, adalah rindu makanan indonesia. Pilihan menu yang kami ingin keluarga kami di tanah air menyediakannya untuk kami di Hari Pertama tiba di Tanah Air, adalah Sayur Asem – Tempe Goreng – dan Sambal terasi . Wooow ..... rasanya mantap