Sejarah Muhammadiyah

SEJARAH MUHAMMADIYAH
http://www.muhammadiyah.or.id/SELAYANG/
 
Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan.
 
Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.
 
Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnyanya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar Pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air.
 
Disamping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga memberi pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian yang disebut "Sidratul Muntaha". Pada siang hari pelajaran untuk anak-anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.
 
Disamping memberikan kegiatan kepada laki-laki, pengajian kepada ibu-ibu dan anak-anak, beliau juga mendirikan sekolah-sekolah. Tahun 1913 sampai tahun 1918 beliau telah mendirikan sekolah dasar sejumlah 5 buah, tahun 1919 mendirikan Hooge School Muhammadiyah ialah sekolah lanjutan. Tahun 1921 diganti namnaya menjadi Kweek School Muhammadiyah, tahun 1923, dipecah menjadi dua, laki-laki sendiri perempuan sendiri, dan akhirnya pada tahun 1930 namnaya dirubah menjadi Mu`allimin dan Mu`allimat.
 
Muhammadiyah Versi Ahmad Dahlan
(GAGASANNYA YANG HAMPIR MATI DAN TERLUPAKAN)
Oleh Maman A Majid Binfas
http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Concordance/con-muhammadiyah_versi.htm 

Sejarah berdirinya suatu organisasi tidak dapat dipisahkan dari gagasan dan pikiran pendirinya Sebab orang-orang yang kemudian bergabung menjadi anggota secara sadar telah menyepakati dasar dan tujuan organisasi tersebut yang pada hakikatnya merupakan perwujudan dari gagasan para pendirinya PSII tidak mungkin dipisahkan dengan HOS Cokroaminoto NU tidak mungkin dipisahkan dengan Hasyim Asyaari Demikian juga Muhammadiyah tidak mungkin dipisahkan dari Ahmad Dahlan Dengan demikian gagasan dan pikiran yang muncul kemudian tidak mungkin dipisahkan dari pikiran dan gagasan awal (para) pendirinya, (Moh Djasman Al-Kindi; sala seorang pencetus berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan menjadi ketua umum pertama DPP IMM)
Gagasan Ahmad Dahlan yang terpilih adalah bagaimana dapatnya mengamalkan ayat-ayat al-Quran Dengan demikian Muhammadiyah sebagai organisasi senantiasa diikhtiarkan untuk menjadi tempat untuk mengkaji Al-Qur`an sekaligus menjadi tempat bermusyawarah untuk mengamalkannya Oleh karenanya Muhammadiyah tidak mungkin terpisah dari tiga prinsip yakni ; Pengkajian Al-Quran, Musyawarah dan amal, yang saat ini hampir mati ; antara ada dan tiada

Dengan demikian warga Muhammadiyah masih perlu mempelajari gagasan dan pikiran KH. Ahmad Dahlan. Terutama yang berkaitan dengan Ibadah Sholat tepat waktu dan pengamalan ayat-ayat Al-Quran, hal itu tidak dimaksud untuk mengikuti jejaknya secara dokmatik tetapi untuk memberi makna kreatif guna penerapannya pada masa kini. Sebab gagasan dan pikiran KH. Ahmad Dahlan jelas merupakan gagasan dan pikiran kretif dan inovatif. Dalam tulisan yang berjudul Al-Islam dan Al-Quran yang sampai sekarang diketahui merupakan satu-satunya tulisan Ahmad Dahlan yang dipublikasikan. Dinyatakan (pada waktu itu) adanya kekalutan di kalangan umat: mereka pecah belah dan tidak pernah bersatu.
 
Dari tulisan KH. Ahmad Dahlan dan pengungkapan Haji Hajid tentang KH. Ahmad Dahlan dalam berorganisasi berpegang pada prinsip:
a. Senantiasa menghubungkan diri (mempertanggungjawabkan tindakannya) kepada Allah.
b. Perlu adanya ikatan persaudaraan berdasar kebenaran (sejati).
c. perlunya setiap orang, terutama para pemimpin terus-menerus menambah ilmu, sehingga dapat mengambil keputusan yang bijaksana.
d. Ilmu harus diamalkan.
e. Perlunya dilakukan perubahan apabila memang diperlukan untuk menuju keadaan yang lebih baik.
f. Mengorbankan harta sendiri untuk kebenaran. Ikhlas dan bersih.
 
Sangat ironis manakalah warga Muhammadiyah mengabaikan sama sekali gagasan dan pikiran pendiri organisasinya ini. Seorang tokoh yang gagasannya telah menghasilkan salah satu organisasi terbesar di Indonesia dan sekarang banyak kalangan menikmatinya walaupun dalam berbagai gaya plus bermacam-macam ragam kepentingan (dalam tanda kutip!), baik dalam amal usaha maupun dalam persyarikatan Muhammadiyah. Gagasan pikiran cemerlang tersebut, jelas tidak layak untuk diabaikan. Gagasan dan pikiran semacam itu jelas mengandung banyak hal yang perlu dipelajari terutama bagi warga Muhammadiyah manakala tidak ada maksud untuk menyimpang dari gagasan dan tujuan berdirinya organisasi tersebut.
 
Perlu diketahui, nama-nama seperti Ibnu Taimiyah, Jamaludin al Afghani dan Muhammad Abduh, di kalangan umat Islam dikenal sebagai ulama penggerak pembaharuan. Gagasan dan pikiran Ahmad Dahlan dikenal juga sebagai gagasan yang dipengaruhi oleh ulama-ulama tersebut. Oleh karena itu Ahmad Dahlan oleh banyak pakar sering dinyatakan sebagai tokoh pembaharu dan Muhammadiyah dinyatakan sebagai gerakan pembaharuan. Akan tetapi perlu dicatat bahwa gerakan pembaharuan yang dilakukan ketiga tokoh tersebut di laksanakan di negara -negara di mana institusi keagamaan dan fasilitasnya sudah tersedia dengan lengkap. Bahkan Muhammad Abduh sendiri adalah salah seorang ulama di Mesir yang mempunyai kedudukan terhormat di Universitas al Azhar dan Darul Ulum yang merupakan perguruan Tinggi yang sangat berwibawa dalam keilmuan agama Islam, tidak saja di negerinya sendiri Mesir, tetapi juga seluruh dunia Islam. Dengan demikian gagasan pemabaharuan Muhammad Abduh didukung oleh dua Universitas besar tersebut, sehingga cenderung merupakan gagasan intelektual. Sedangkan gagasan pembaharuan yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan sama sekali tidak memperoleh dukungan dari lembaga pendidikan apapun. Sebab pada waktu itu belum ada sebuah sekolah pendidikan dasar sekalipun di kalangan umat Islam, sehingga dapat difahami kalau gerakan pembaharuan Ahmad Dahlan bersifat sangat pratikal, ialah mengembangkan gagasan dan pikiran sekaligus mengusahakan fasilitas pendukung untuk melaksanakan gagasan dan pikiranya itu.
Haji Hajid menuliskan pengalamannya sebagai murid Ahmad Dahlan dalam risalah singkat berjudul falsafah Ajaran KH. Ahmad Dahlan, yakni tujuh poin yang dapat dipetik;
 
Pertama; Kerapkali KH. Ahmad Dahlan mengungkapkan perkataan ulama (al-Ghazali pen) yang menyatakan bahwa manusia itu semuanya mati (mati perasaannya) kecuali para ulama yaitu orang-orang yang berilmu. Dan ulama itu senantiasa dalam kebingungan, kecuali mereka yang beramal. Dan yang beramal pun semuanya dalam kekhawatiran kecuali mereka yang ikhlas dan bersih.
 
Kedua; Kebanyakan mereka di antara manusia berwatak angkuh dan takabur mereka mengambil keputusan sendiri-sendiri. KH. Ahmad Dahlan heran mengapa pemimpin agama dan yang tidak beragama selalu hanya beranggap, mengambil keputusan sendiri tanpa mengadakan pertemuan antara mereka, tidak mau bertukar pikiran memperbincangkan mana yang benar dan mana yang salah?. Hanya anggapan-anggapan saja, disepakatkan dengan istrinya, disepakatkan dengan muridnya, disepakatkan dengan teman-temannya sendiri. Tentu saja akan dibenarkan. Tetapi marilah mengadakan permusyawaratan dengan golongan lain di luar golongan masing - masing untuk membicarakan manakah sesungguhnya yang benar?. Dan manakah sesungguhnya yang salah?
 
Ketiga; Manusia kalau mengerjakan pekerjaan apapun, sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian jadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang dicintai. Kebiasaan yang dicintai itu sukar untuk dirubah. Sudah menjadi tabiat bahwa kebanyakan manusia membela adat kebiasaan yang telah diterima, baik dari sudut atau itiqat, perasaan kehendak maupun amal perbuatan. Kalau ada yang akan merubah sanggup membela dengan mengorbankan jiwa raga. Demikian itu karena anggapannya bahwa apa yang dimiliki adalah benar.
 
Keempat; Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus bersama-sama mepergunakan akal pikirannya untuk memikir bagaimana sebenarnya hakikat dan tujuan manusia hidup di dunia. Manusia harus mempergunakan pikirannya untuk mengoreksi soal itikad dan kepercayaannya, tujuan hidup dan tingkah lakunya, mencari kebenaran yang sejati.
 
Kelima; Setelah manusia mendengarkan pelajaran-pelajaran fatwa yang bermacam-macam membaca beberapa tumpuk buku dan sudah memperbincangkan, memikir-mikir, menimbang, membanding-banding kesana kemari, barulah mereka dapat memperoleh keputusan, memperoleh barang benar yang sesungguhnya. Dengan akal pikirannya sendiri dapat mengetahui dan menetapkan, inilah perbuatan yang benar. Sekarang kebiasaan manusia tidak berani memegang teguh pendirian dan perbuatan yang benar karena khawatir, kalau barang yang benar, akan terpisah dan apa-apa yang sudah menjadi kesenangannya, khawatir akan terpisah dengan teman-temannya. Pendek kata banyaknya kekhawatiran itu yang akhirnya tidak berani mengerjakan barang yang benar, kemudian hidupnya seperti makhluk yang tak berakal, hidup asal hidup, tidak menepati kebenaran.
 
Keenam; Kebanyakan para pemimpin belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolongnya umat manusia dalam kebenaran. Malah pemimpin-pemimpin itu biasanya hanya mepermainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah.
 
Ketujuh: Ilmu terdiri atas pengetahuan teori dan amal (praktek), Dalam mempelajari kedua ilmu itu supaya dengan cara bertingkat. Kalau setingkat saja belum bisa mengerjakan tidak perlu ditambah. Pada poin ini, pengurus Muhammadiyah dan angkatan mudanya saat ini, baik pada tingkat pusat maupun pada tingkat wilayah dalam segi teori berlogika tidak diragukan lagi. Namun dalam hal praktiknya masih perlu lagi diasah/dipertanyakan?, Ibadah Sholat tepat waktu dan kajian al-Quran sebagai piranti utama perjuangan KH. Ahmad Dahlan, mereka logikakan sebagai kebebasan pribadi, lalu shalat subuh rutin jam tuju pagi tidak menjadi soal, belum lagi tata cara shalatnya beraneka ragam, hingga keputusan tarjih dibiarkan bercerita sendiri logika pribadi tanpa dasar itu menjadi ukuran. Bahkan Pengkaderan sebagai nadi organisasi pergerakan sudah ditingkatkan pada logika tinggi plus misi haus kekuasaan hingga rana nurani, etik, Akhlak, sopan-santun menjadi misi persyarikan tak dihiraukan lagi, sebab liberalisasi itulah menjadi dasar hak asasi. Dan proyek politik, proyek suksesi menjadi kendaraan bisnisnya tanpa mengenal waktu terpenting proposal laku dan kolusi uang saku tersedia! Kader ataupun bukan? persetan! Astagfirullah.
 
Dari tujuh butir pikiran brilian serta dari makalah KH.Ahmad Dahlan di atas, lalu kita mengamati secara seksama aktifitas pengurus Muhammadiyah dan angkatan mudanya saat ini. Apakah masih bercahaya sesuai dengan agenda dasar alam pikiran KH. Ahmad Dahlan?, ataukah justru pikiran serta gagasan KH. Ahmad Dahlan sudah jauh dari akar dasarnya - dilecehkan, ataukah sudah mati dan padam disebabkan oleh serbuan dari berbagai kepentingan, yang menjadikan organisasi serta amal usaha Muhammadiyah sebagai batu loncatan untuk mencapai kepentingan dan kepuasan pribadi atau kelompok. Bahkan mungkin sebagian atau kebanyakan, menjadikan Muhammadiyah bagaikan lembaga persekutuan berhistoris Hantu sementara gagasan dan pikiran pendirinya hanya legenda dan atau sebagai dongeng belaka?
 
Seperti terselubungnya kriteria, yang bisa menjadi presiden Indonesia, kalau bukan orang jawa, jangan bermimpi jadi orang nomor satu di Indonesia. Mungkin begitu juga terjadi pada Muhammadiyah dan angkatan mudanya beserta gerbongnya, bila dia, bukan orang kelahiran asli daerah atau wilayah tersebut, maka dia tidak bisa menjadi pucuk pada persyarikatan atau amal usaha Muhammadiyah. Lalu apakah demikian, tujuan awal niat tulus suci - hati bening KH. Ahmad Dahlan, tempo dulu? Atau didirikannya dengan doa syahdu yang hanya memohon magfirah ridho Ilahi semata.
Muhammadiyah bukanlah hantu. Gagasan dan pikiran KH. Ahmad Dahlan bukanlah legenda dan dongeng belaka! Akan tetapi nilai dan makna ketulusan hakiki yang nyata! Semoga terenungkan dalam sanubari!
 
Dan sesudah KH.Ahmad Dahlan apakah akan ada Muhammadiyah versi baru ? Cerdas tapi tak cerdas! bermuka-muka tapi tak bermuka, bermoral tapi tidak berakhlak?
 
 
 
Organisasi Islam
MUHAMMADIYAH
 
Tentang Muhammadiyah
Secara etimologis nama Muhammadiyah berasal dari kata "Muhammad", yaitu nama Rasulullah SAW, dan diberi tambahan yâ' nisbah dan tâ' marbûthah yang berarti pengikut Nabi Muhammad SAW. KH. Ahmad Dahlan (pendiri organisasi Muhammadiyah) menegaskan bahwa, "Muhammadiyah bukanlah nama perempuan melainkan berarti umat Muhammad, pengikut Muhammad, Nabi Muhammad SAW utusan Tuhan yang penghabisan." Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah yang baru, yang telah disesuaikan dengan UU No. 8 tahun 1985 dan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta pada tanggal 7-11 Desember 1985, Bab I Pasal 1, disebutkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar makruf nahi munkar yang berakidah Islam dan bersumber pada aI-Qur'an dan Sunnah. Muhammadiyah, salah satu sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia, didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Zulhijjah 1330 (18 November 1912) di Yogyakarta
 
Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang telah menghembuskan jiwa pembaruan pemikiran Islam di Indonesia dan bergerak diberbagai bidang kehidupan umat. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh kalangan Muhammadiyah yang menjadi faktor didirikannya organisasi ini oleh KH. Ahmad Dahlan, antara lain: la melihat bahwa umat Islam tidak memegang teguh aI-Qur'an dan Sunnah dalam beramal sehingga takhayul dan syirik merajalela, akhlak masyarakat runtuh. Akibatnya, amalan-amalan mereka merupakan campuran antara yang benar dan yang salah. Sebagaimana diketahui, orang-orang Indonesia sudah beragama Hindu sebelum datangnya lslam. Menurut catatan sejarah, agama Hindu dibawa pertama kali masuk Indonesia oleh pedagang-pedagang India sehingga pengaruhnya tidak terlepas dari umat Islam. Lembaga-lembaga pendidikan agama yang ada pada waktu itu tidak efisien. Pesantren, yang menjadi lembaga pendidikan kalangan bawah, pada masa itu dinilai tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. Pada waktu itu pendidikan di Indonesia telah terpecah dua, yaitu pendidikan sekular yang dikembangkan oleh Belanda dan pendidikan pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan agama. Akibatnya, terjadi jurang pemisah yang sangat dalam antara golongan yang mendapat pendidikan sekular dan golongan yang mendapatkan pendidikan di pesantren. Ini juga mengakibatkan terpecahnya rasa persaudaraan (ukhuwah islamiyah) di kalangan umat Islam dan semakin melemahnya kekuatan umat Islam. Kemiskinan menimpa rakyat Indonesia, terutama umat Islam, yang sebagian besar adalah petani dan buruh. Orang kaya hanya mementingkan dirinya sendiri, dan bahkan banyak ulama lupa mengingatkan umatnya bahwa Islam mewajibkan zakat bagi si kaya, sehingga hak-hak orang miskin terabaikan. Aktivitas misi Katolik dan Protestan sudah giat beroperasi sejak awal abad ke-19 dan bahkan sekolah-sekolah misi mendapat subsidi dari pemerintah Hindia Belanda.
 
Kebanyakan umat Islam hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta, serta berpikir secara dogmatis. Kehidupan umat Islam masih diwarnai konservatisme, formalisme dan tradisionalisme. Melihat keadaan umat Islam yang demikian, dan didorong oleh pemahamannya yang mendalam terhadap surah Ali 'Imran ayat 104, KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sebagai organisasi pembaru dan mengajak umat Islam untuk kembali menjalankan syariat sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Pada mulanya Muhammadiyah, sesuai dengan perkembangan yang ada pada masa awal kelahirannya, melakukan aktivitas-aktivitas sebagai berikut: Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan-kebiasaan yang non-Islam. Hal ini dilakukan dengan mempergiat dan memperdalam penyelidikan ilmu agama Islam untuk mendapatkan kemurniannya; memperteguh iman; menggembirakan (memotivasi dan memasyarakatkan) dan memperkuat ibadah; mempertinggi akhlak; mempergiat dan menggembirakan dakwah Islam serta amar makruf nahi munkar; serta mendirikan, menggembirakan dan memeIihara tempat-tempat ibadah dan wakaf. Mengadakan reformulasi doktrin-doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern. Mengadakan reformasi ajaran-ajaran dan pendidikan Islam. Pembaruan Muhammadiyah terlihat dari dua sisi ketika itu, yaitu memberikan pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah Belanda dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri yang berbeda dengan sistem pesantren. Di sekolah ini, disamping pendidikan agama, juga diberikan pendidikan umum; tidak dilakukan pemisahan antara murid laki-laki dan perempuan. Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan-serangan dari luar. Untuk itu Muhammadiyah berusaha membentengi para pemuda, wanita, pelajar dan rakyat biasa dengan menimbulkan kesadaran beragama mereka, dan berusaha untuk memperbaiki kehidupan dan penghidupan mereka sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Disamping itu, rasa persatuan dan ukhuwah islamiyah di kalangan umat Islam perlu digalang kembali. Keempat hal yang merupakan tujuan ini, telah menjadi aktivitas Muhammadiyah pada awal berdirinya. Tujuan ini dapat dilihat pada Anggaran Dasar Muhammadiyah ketika diajukan permohonan pengesahan Perserikatan Muhammadiyah pada tanggal 20 Desember 1912. Di sana terlihat bahwa maksud dan tujuan Muhammadiyah itu disusun secara sederhana dalam dua kalimat, yaitu: Memajukan serta menggembirakan pelajaran dan pengajaran agama Islam dalam kalangan sekutu-sekutunya. Memajukan serta menggembirakan hidup sepanjang kemauan agama Islam dalam kalangan-kalangan sekutunya. Kedua rangkaian kalimat tersebut mengandung arti yang sangat dalam yang dijabarkan dalam berbagai aktivitas Muhammadiyah ketika itu.
 
Sebagai badan hukum, Muhammadiyah baru diakui secara resmi oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 22 Agustus 1914, 2 tahun setelah KH. Ahmad Dahlan mengajukan permohonannya. Pengakuan pemerintah Hindia Belanda atas Muhammadiyah tercantum dalam Gouvernement Besluit No.81 (Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda), tertanggal 22 Agustus 1914. Surat pengakuan atas berdirinya Perserikatan Muhammadiyah ini menyatakan bahwa Muhammadiyah diizinkan hanya untuk daerah Yogyakarta, serta berlaku selama 29 tahun. Pengakuan ini kemudian diperbarui pada tanggal 16 Agustus 1920 melalui Gouvernement Besluit No. 40, tertanggal 16 Agustus 1920, yang mengizinkan Muhammadiyah untuk memperluas geraknya di se-Karesidenan Yogyakarta. Kemudian, pengakuan diperbarui lagi melalui Gouvernement Besluit No.36, tertanggal 2 September 1921, yang mengizinkan Muhammadiyah bergerak mengembangkan aktivitasnya di luar Yogyakarta. Jika masa berlakunya izin telah habis, yang dibatasi selama 29 tahun, harus diajukan permohonan perpanjangan waktu kembali. Namun, sebelum masa berlakunya habis, Belanda telah terusir dari Indonesia. Oleh karena itu, permohonan izin diajukan kepada pemerintah Jepang yang menggantikan Belanda. Izin dari pemerintah Jepang tertuang dalam Surat Keputusan Pemerintahan Militer Jepang di Jawa-Madura pada tanggal 10 September 1943, dengan syarat: Tidak boleh mengorganisasi kaum wanita sendiri seperti Fujinkai, dan tidak boleh mengorganisasi pemuda dan anak-anak seperti Seinendan dan Syenendam. Dalam anggaran dasar harus dinyatakan dan ditulis bahwa kemakmuran bersama di Asia Timur Raya berada di bawah pimpinan Dai Nippon, dan hal itu harus diyakini sebagai yang diperintahkan oleh Tuhan Allah SWT. Dengan syarat yang dikemukakan pemerintah militer Jepang ini maka Aisyiyah, Hizbul Wathan, serta bagian kepemudaan ditiadakan, dan semuanya digabung dalam Muhammadiyah; padahal ketiga bagian tersebut merupakan organisasi otonom di bawah Muhammadiyah. Selanjutnya, kehendak Jepang pada butir (2) juga harus dimasukkan ke dalam anggaran dasar dan diikuti demi kesinambungan pergerakan Muhammadiyah.
 
Muhammadiyah Di Luar Negeri
 
Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang telah tersebar di seluruh pelosok Tanah Air, juga diminati oleh sebagian umat Islam di luar negeri. KH. Ahmad Dahlan sendiri pernah mengatakan bahwa "Muhammadiyah ini menjadi 'bapak dunia', sebagaimana juga Aisyiyah menjadi 'ibu dunia'." Ungkapan ini menggambarkan keinginan KH. Ahmad Dahlan untuk memperluas Muhammadiyah ke luar negeri. Ketika KH. Fakhruddin menjabat sebagai Pimpinan Pusat Muhammadiyah, permasalahan mendirikan Muhammadiyah di luar negeri menjadi salah satu topik pembahasan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta pada tanggal 8-16 Mei 1931. Dari 25 cabang yang hadir, hanya satu yang tidak menyetujui ide pendirian Muhammadiyah di luar negeri, yaitu Cabang Sragen yang menganggap bahwa belum masanya Muhammadiyah melebarkan sayapnya ke luar negeri. Kemudian, pada Muktamar Muhammadiyah ke-22 di Semarang pada tahun 1933 permasalahan ini dibicarakan lagi. Memang ada suatu usaha untuk membentuk suatu komisi yang akan menyelidiki dan membuat peraturan akan berdirinya Muhammadiyah di luar negeri, namun agaknya realisasinya amat sulit karena adanya perbedaan pemerintahan. Beberapa kali dari "tanah seberang" (Tanah Melayu) datang permintaan agar didirikan Muhammadiyah di negeri mereka. Keinginan sebagian umat Islam di Singapura, Malaysia, dan Thailand untuk mendirikan Muhammadiyah sulit untuk dipatahkan sehingga pada tanggal 25 Desember 1957 berdirilah Muhammadiyah Singapura, dengan perintis pertamanya, Ustad Abdul Rahman Haron. Dari latar belakang pendirian Muhammadiyah Singapura ini terlihat bahwa permasalahan yang dihadapi Abdul Rahman Haron sama dengan persoalan yang dihadapi KH. Ahmad Dahlan ketika akan mendirikan organisasi Muhammadiyah. Di Pulau Penang, Malaysia, Muhammadiyah didirikan buat pertama kali oleh Ustad Zainal Abidin Zam Zam pada tahun 1967. Disamping itu Muhammadiyah di Malaysia juga mempunyai dua organisasi otonom, yaitu Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah. Untuk Thailand, Muhammadiyah didirikan secara resmi tanggal 11 Agustus 1988 di Kabupaten Canak, Propinsi Songkhla, Thailand Selatan. Berdirinya Muhammadiyah di daerah ini diawali dengan pertemuan para cendekiawan Islam yang umumnya bekas alumni pendidikan di Indonesia.
 
Sekalipun Muhammadiyah di luar negeri tidak terkait secara organisatoris dengan Muhammadiyah di Indonesia, keterkaitan moral tetap berlangsung sehingga setiap kali Muhammadiyah melakukan muktamarnya, utusan-utusan dari Muhammadiyah di luar negeri senantiasa diundang, dan mereka hadir. Cita-cita KH. Ahmad Dahlan untuk menggairahkan dan menggembirakan pelaksanaan ajaran Islam sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah agaknya mulai terlihat setahap demi setahap, baik di Indonesia sendiri, maupun di beberapa bagian dari umat Islam di luar negeri.
 
Periode Kepemimpinan Muhammadiyah
 
Sejak berdirinya pada tahun 1912, Muhammadiyah telah mengadakan muktamar sebanyak 42 kali, yang terakhir di Yogyakarta pada penghujung tahun 1990. Para pimpinan tertinggi Muhammadiyah (Ketua Umum) sejak berdirinya terdiri atas: (1) KH. Ahmad Dahlan tahun 1912-1923; (2) KH. Ibrahim 1923-1932; (3) KH. Hisyam 1932-1936; (4) KH. Mas Mansur 1936-1942; (5) Ki Bagus Hadikusumo 1942-1953; (6) A.R. Sutan Mansur 1953-1959; (7) HM. Yunus Anis 1959-1962; (8) KH. Ahmad Badawi 1962-1968; (9) KH. Fakih Usman 1968-1971; (10) KH. Abdur Rozzaq Fakhruddin 1971-1990; dan (11) KH. Ahmad Azhar Basyir, MA untuk tahun 1990-1995. Masing-masing periode pimpinan tersebut mempunyai ciri khas tersendiri. Periode KH. Ahmad Dahlan dikenal sebagai periode perintisan, pembentukan jiwa, amal usaha dan organisasi Muhammadiyah, sehingga Muhammadiyah menduduki tempat terhormat sebagai pergerakan Islam Indonesia yang berpaham modern. Periode KH. Ibrahim adalah periode pengembangan Muhammadiyah ke luar Pulau Jawa, mulai berdirinya Majelis Tarjih sebagai wadah pembaruan pemikiran Islam dalam Muhammadiyah, serta pada periode ini pula angkatan muda memperoleh organisasi yang nyata, seperti lahirnya Nasyi'atul Aisyiyah pada tahun 1930, yang disusul kemudian oleh Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1932. Periode KH. Hisyam menumpukan perhatiannya pada masalah-masalah pendidikan dalam rangka mempersiapkan kader pemimpin. Periode KH. Mas Mansur, yang dikenal sebagai tokoh yang aktif, membentuk dan mengisi jiwa gerakan Muhammadiyah. Perhatian terhadap Majelis Tarjih mendapat prioritas utama dengan merumuskan "Masalah Lima" yang terdiri atas masalah dunia, agama, kias, sabilillah dan ibadah. Untuk mendinamisasi Muhammadiyah disusun pula pada periode ini "Langkah Dua Belas" (suatu strategi yang ditetapkan Muhammadiyah dalam memasyarakatkan dan mengembangkan dakwah Islam, yang berisikan 12 butir), yang terdiri atas Langkah Ilmi dan Langkah Amali. Periode Ki Bagus Hadikusumo terkenal dengan lahirnya Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang berisi pokok-pokok pikiran KH. Ahmad Dahlan dalam melahirkan Muhammadiyah, yang digambarkan secara singkat dan sederhana. Muqaddimah ini menjadi landasan berpijak yang kuat dalam melancarkan amal usaha dan perjuangan Muhammadiyah. Periode A.R. Sutan Mansur merupakan penanaman kembali dan pemantapan "Ruh Tauhid" (semangai tauhid) dalam Muhammadiyah, dan berhasil disusun langkah perjuangan yang dikenal dengan "Khittah Palembang" (langkah-langkah dan strategi Muhammadiyah dalam dakwah amar makruf nahi munkar yang dihasilkan Muktamar Muhammadiyah di Palembang) untuk masa periode tahun 1956-1959. Periode HM. Yunus Anis adalah periode ketika Indonesia mengalami kegoncangan sosial dan politik. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut Muhammadiyah perlu menunjukkan dirinya sehingga disusunlah "Kepribadian Muhammadiyah" sebagai pedoman penting dalam menentukan kedudukan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam, amar makruf nahi munkar dalam bidang kemasyarakatan. Periode KH. Ahmad Badawi dikenal dengan semakin giatnya gerakan Partai Komunis sehingga di berbagai tempat Muhammadiyah mendapat kesulitan.
 
Muhammadiyah ikut serta berperan untuk menumbangkan Partai Komunis Indonesia. Dengan fatwa tegas KH. Ahmad Badawi mengatakan bahwa "membubarkan PKI adalah ibadah." Periode KH. Fakih Usman dan KH. Abdur Rozzaq Fakhruddin dikenal dengan semboyan "Memuhammadiyahkan kembali Muhammadiyah" yang dilakukan dengan empat prioritas program, yaitu: Program Gerakan Jemaah dan Dakwah Jemaah. Pemurnian Amal Usaha Muhammadiyah. Peningkatan Mutu Anggota dan Pimpinan. Pembinaan Angkatan Muda dalam Muhammadiyah. Pada periode tahun 1990-1995, di bawah pimpinan KH. Ahmad Azhar Basyir, MA. perhatian ditujukan pada pengembangan organisasi secara profesional dengan manajemen masa kini, kemudian peningkatan penyantunan kaum du'afa (kaum lemah), peningkatan kualitas pimpinan dan strategi dakwah pada era informasi dan industrialisasi. Sesuai dengan zamannya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada periode ini menghadapi tantangan yang lebih sulit dan memerlukan penanganan secara profesional. Untuk itu struktur organisasi lebih dikembangkan sehingga diharapkan tujuan Muhammadiyah dapat dicapai secara terencana, terarah dan berkesinambungan diberbagai bidang kehidupan sesuai dengan gerak langkah Muhammadiyah.
Organisasi Otonom Muhammadiyah
Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi yang besar juga mempunyai beberapa organisasi otonom yang gerak dan tujuannya sama dengan gerak dan tujuan Muhammadiyah. Organisasi otonom yang dimaksud adalah; Aisyiyah. Nasyi'atul Aisyiyah. Pemuda Muhammadiyah. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Tapak Suci. Secara rinci organisasi-organisasi otonom dalam Muhammadiyah dan bidang garapannya adalah sebagai berikut: Aisyiyah, bergerak dan berjuang di tengah-tengah kaum ibu atau muslimat Indonesia. Aisyiyah didirikan KH. Ahmad Dahlan pada bulan April 1917 karena didorong oleh kesadaran bahwa kaum wanita itu sejajar dengan pria dalam berbakti kepada Allah SWT. KH. Ahmad Dahlan melihat bahwa untuk itu Muhammadiyah harus menyiapkan wahana untuk membina kaum muslimat sehingga mereka dapat ikut serta bersama kaum pria menjunjung tinggi agama Islam dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
Nasyi'atul Aisyiyah, yaitu perkumpulan para puteri Muhammadiyah, yang bidang garapannya adalah pembinaan remaja puteri Islam, berdiri sejak tahun 1930. Perkumpulan ini pada mulanya bernama Siswa Praja Wanita yang didirikan oleh Sitti Wasilah Hadjid. Ketika itu Siswa Praja Wanita ini belum merupakan bagian dari Aisyiyah tetapi baru merupakan suatu perkumpulan remaja puteri di Kauman Yogyakarta. Bersama dengan berdirinya Siswa Praja Wanita ini, juga berdiri Siswa Praja Pria. Kedua perkumpulan ini sering kali mengadakan rapat bersama dalam rangka mengembangkan gerakan mereka. Setelah 5 tahun berdiri Siswa Praja Wanita, pimpinannya dipegang oleh Sitti Umniyah. Ketika itu perkumpulan Siswa Praja Wanita telah maju dengan pesat dan telah mampu berdiri sendiri tanpa bantuan Siswa Praja Pria. Pada tahun 1929 Siswa Praja Wanita telah menjadi bagian dari Aisyiyah, yang dipimpin oleh Sitti Zuchriyah. Organisasi ini semakin baik dan berkembang, berdiri dengan cabang-cabang dan ranting-ranting di luar Yogyakarta, bahkan di luar Jawa. Setelah itu nama Siswa Praja Wanita ditukar dengan Nasyi'atul Aisyiyah. Pemuda Muhammadiyah, dimaksudkan untuk membina dan menggerakkan potensi para pemuda Islam. Organisasi ini didirikan pada tanggal 2 Mei 1932/25 Dzulhijjah 1350 berdasarkan hasil keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-21 di Ujungpandang. Pendirian organisasi ini juga dijiwai oleh firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi ayat 13, yang artinya, "Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan petunjuk." Dalam Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke- 4 di Jakarta pada tanggal 18-24 November 1986 dinyatakan bahwa pemuda Muhammadiyah merupakan pelopor gerakan, penyempurna amal usaha dan perjuangan, serta pelangsung kegiatan dan perjuangan Islam. Ikatan Pelajar Muhammadiyah, disingkat IPM, bertugas untuk membina dan menggerakkan potensi para pelajar Islam. Didirikannya organisasi ini bermula dari salah satu keputusan Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke-1 pada tahun 1956 di Palembang, yang isinya menetapkan "Langkah ke depan Pemuda Muhammadiyah Tahun 1956-1959" untuk menghimpun para pelajar Muhammadiyah agar menjadi pemuda Muhammadiyah. Berdasarkan pemikiran ini, maka pada saat berlangsungnya Konferensi Daerah Pemuda Muhammadiyah seIndonesia di Surakarta pada tanggal 18 Juli 1961/5 Safar 1381 secara resmi didirikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, disingkat IMM, bertugas membina dan menggerakkan potensi para mahasiswa Islam. Secara khusus IMM bergerak dibidang keagamaan, kemasyarakatan dan kemahasiswaan. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini didirikan pada tanggal 14 Maret 1964/ 29 Syawal 1384. Tapak Suci, yang juga disebut Persatuan Pencak Silat Putera Muhammadiyah, pertama kali didirikan di Kauman Yogyakarta pada tanggal 31 Juli 1963 dengan mendapat restu dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pelopor pendirian Tapak Suci ini adalah tiga perguruan pencak silat di Kauman yang telah berdiri semenjak tahun 1925. Keanggotaan Tapak Suci terdiri atas: (a) Tingkat Anak-Anak untuk umur antara 12-16 tahun, dibagi atas 5 tingkat dengan tanda "teratai putih"; (b) Tingkat Dewasa, untuk anggota yang berumur 17 tahun ke atas, juga dibagi atas 5 kelas dengan tanda "teratai cokelat"; dan (c) Tingkat Pelatih, terbagi atas 4 kelas dengan tanda "teratai merah". Hizbul Wathan (Kepanduan Muhammadiyah). Semula bernama Padvinder Muhammadiyah, didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tahun 1918. Pelopor berdirinya antara lain Siradj Dahlan dan Sarbini. Atas usul H. Agus Salim, istilah Belanda tersebut diindonesiakan dengan "Kepanduan Muhammadiyah." Pada tahun 1920, atas usul RH. Hadjid, Kepanduan Muhammadiyah berganti nama menjadi Hizbul Wathan (HW). Ada beberapa tingkatan pada HW: Tingkat Athfal untuk usia 8-11 tahun, Tingkat Pengenal untuk usia 12-16 tahun, dan Tingkat Penghela untuk usia 17 tahun ke atas. Dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia HW banyak memberikan andil dalam mempersiapkan para pemuda untuk menghadapi penjajah Belanda, antara lain Jenderal Sudirman yang pada tanggal 18 Desember 1945 diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi panglima besar Tentara Keamanan Rakyat. Berdasarkan SK Presiden RI No. 238/1961, tertanggal 20 Mei 1961, HW ditiadakan dan disatukan ke dalam Gerakan Pramuka (Praja Muda Karana).
 
Seluruh organisasi otonom Muhammadiyah tersebut diatas mempunyai tujuan dan maksud yang sama dengan tujuan dan maksud Muhammadiyah. Struktur organisasinya juga bertingkat-tingkat, mulai dari Ranting, Cabang, Daerah, Wilayah sampai ke Pusat; mempunyai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta program sendiri. Perangkat organisasi Muhammadiyah, amal usaha dan perjuangan yang dilakukan telah memberikan andil yang cukup besar dalam mencapai dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Dari segi pendidikan, Muhammadiyah melalui sekolah-sekolahnya telah banyak melahirkan para pemimpin bangsa dan pemimpin masyarakat. Kemudian dari segi dakwahnya, Muhammadiyah telah berusaha dan banyak menghasilkan pemberantasan terhadap ajaran-ajaran yang datang dari luar Islam; dari segi santunan sosial, Muhammadiyah juga telah ikut aktif menangani permasalahan yatim piatu dan kesehatan masyarakat melalui panti-panti asuhan dan rumah sakit serta klinik yang mereka miliki. Muhammadiyah juga ikut secara aktif dalam memberikan saran dan pendapatnya terhadap suatu undang-undang yang akan ditetapkan oleh pemerintah melalui DPR/MPR, yang dimulai dari keikutsertaannya dalam merumuskan Dasar Negara dan Undang-Undang Dasar RI 1945, UU Perkawinan, UU Pendidikan dan RUU Peradilan Agama.
 
Majelis di Muhammadiyah
 
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta pada tanggal 15-19 Desember 1990, sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan, majelis-majelis ini mengalami perubahan dan penyempurnaan lagi, disamping adanya badan-badan khusus lainnya yang diperlukan. Hasil Muktamar Muhammadiyah ke-42 tersebut menyebutkan babwa majelis untuk tingkat Pusat terdiri atas: Majelis Tarjih. Majelis Tablig. Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah. Majelis Pendidikan Tinggi. Majelis Kebudayaan. Majelis Pustaka. Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial. Majelis Ekonomi. Majelis Pembina Kesehatan. Majelis Wakaf dan Kehartabendaan. Disamping itu ada lagi lembaga lain yang setingkat majelis, yaitu: Bidang Perencanaan dan Evaluasi. Lembaga Bimbingan dan Pengawasan Keuangan. Badan Pembinaan Kader. Badan Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri. Lembaga Hikmah dan Studi Kemasyarakatan. Lembaga Dakwah Khusus. Lembaga Pengembangan Masyarakat dan Sumber Daya Manusia. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan. Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Dengan memperbandingkan bentuk-bentuk majelis sebelum dan sesudah Muktamar Muhammadiyah ke-42 terlihat bahwa struktur dan lembaga-lembaga majelis atau badan yang dibutuhkan Muhammadiyah semakin berkembang. Hal ini sesuai dengan keinginan kalangan Muhammadiyah sendiri, yakni bahwa organisasi mereka sebagai Gerakan Tajdid dikelola secara profesional dan modern sesuai dengan kebutuhan situasi dan kondisi Indonesia yang semakin berkembang. Perangkat majelis yang dihasilkan oleb Muktamar Muhammadiyah ke-42 dan hasil sidang Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1990-1995 disesuaikan dengan tekad yang telah dicanangkan oleb Muhammadiyah sebelum muktamar, bahwa Muhammadiyah harus dikelola secara profesional dan dalam organisasi yang modern. Setelab Muktamar Muhammadiyah ke-42, pengembangan seksi-seksi yang ada dalam majelis sudah sangat luas. Hal ini mencerminkan betapa Muhammadiyah ingin mengelola organisasinya dengan baik dalam rangka mencapai tujuan yang telab dicanangkan.
 
Majelis Tarjih mempunyai lima seksi, yaitu: Seksi Pengkajian Perkembangan Pemikiran dalam Islam. Seksi Pengkajian dan Pengembangan Keputusan. Seksi Organisasi. Seksi Kaderisasi Ulama. Seksi Hisab. Majelis Pembina Kesehatan yang merupakan lembaga baru dalam Muhammadiyah juga dibagi atas beberapa bidang, yaitu: Bidang Pembinaan dan Pengembangan Pelayanan Medik. Bidang Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Tenaga Kesehatan. Bidang Pengembangan Pembinaan Kesehatan Umat. Bidang Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Umat. Bidang Usaha Obat dan Peralatan Medik. Majelis-Majelis lainnya masih terdiri atas susunan kepengurusan karena keberadaannya belum diperlukan. Mayoritas personalia Pimpinan Pusat Muhammadiyah beserta majelis, badan dan lembaganya terdiri atas para cendekiawan dalam berbagai disiplin ilmu disamping para kyai dan ulama. Selanjutnya, majelis, badan dan lembaga untuk tingkat Wilayah, Daerah dan Cabang, sesuai dengan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 38/tahun 1991, terdiri atas: Majelis Tarjih. Majelis Tablig. Majelis Pustaka. Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah. Majelis Kebudayaan. Majelis Wakaf dan Kehartabendaan. Majelis Ekonomi. Majelis Pembina Kesejahteraan Sosial. Majelis Pembina Kesehatan. Majelis-Majelis ini ditentukan untuk tingkat Wilayah dan Daerah; sedangkan untuk tingkat Cabang, majelis disebut sebagai bagian yang pembentukannya disesuaikan dengan kondisi objektif Cabang tersebut. Badan atau lembaga yang dapat dibentuk untuk tingkat Wilayah sesuai dengan kondisi objektif adalah; Badan Perencanaan dan Evaluasi. Badan Pendidikan Kader. Lembaga Hikmah dan Studi Kemasyarakatan. Lembaga Pembinaan dan Pengawasan Keuangan. Untuk tingkat Daerah, yang dibenarkan dibentuk sesuai dengan kebutuhan adalah Lembaga Pembinaan dan Pengawasan Keuangan dan Badan Pendidikan Kader. Disamping majelis, badan dan lembaga yang ada, pimpinan perserikatan di setiap tingkat juga mempunyai sekretariat eksekutif yang bertugas sebagai pembantu pimpinan di bidang administratif.
 
Tingkatan Kepengurusan Muhammadiyah
 
Menurut Anggaran Dasar Pasal 6 dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, Perserikatan Muhammadiyah terdiri atas beberapa tingkat, yaitu: Ranting. Kesatuan anggota di suatu tempat; dan merupakan satuan organisasi terbawah. Ranting ini dapat berdiri jika anggota Muhammadiyah di tempat tersebut telah lebih dari lima orang dan mempunyai amal usaha sebagai wadah gerakan mereka. Cabang. Kesatuan Ranting-Ranting dalam suatu tempat. Untuk itu satu cabang dapat didirikan bila di daerah tersebut sudah ada paling sedikit tiga Ranting, dan mempunyai amal usaha sebagai wadah gerakan dalam mencapai tujuan. Cabang ini setingkat dengan kecamatan dalam pemerintahan. Daerah. Kesatuan Cabang dalam sebuah kabupaten atau kotamadya, yang terdiri atas sekurang-kurangnya tiga Cabang yang telah disahkan, dan mempunyai amal usaha sebagai wadah perjuangan dalam mencapai tujuan perserikatan. Wilayah. Kesatuan Daerah-Daerah dalam sebuah propinsi atau yang setingkat, serta berkedudukan di ibu kota propinsi. Suatu Wilayah dapat terbentuk jika di wilayah tersebut telah ada paling tidak tiga Daerah yang disahkan dan mempunyai amal usaha sebagai wadah perjuangan untuk tercapainya tujuan Perserikatan Muhammadiyah. Pimpinan dalam Muhammadiyah juga bertingkat, mulai dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting. Susunan pimpinan ini bersifat vertikal. Sedangkan secara horisontal, pimpinan Muhammadiyah dalam seluruh tingkat bisa berwujud majelis atau bagian. Untuk tingkat Daerah ke atas, pimpinannya secara horisontal disebut majelis, disamping juga dikenal badan-badan tertentu sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan untuk tingkat Cabang dan Ranting pimpinan secara horisontal ini disebut bagian. Dalam melaksanakan program yang telah disusun oleh masing-masing tingkat pimpinan ini, majelis atau bagian yang dibentuk sesuai kebutuhan, bekerja sesuai dengan bidang tugas masing-masing. Pimpinan dalam segala tingkat struktur Muhammadiyah, vertikal dan horisontal, adalah orang-orang yang telah memenuhi syarat sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 5 Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, yaitu: Telah menjadi anggota paling kurang 1 tahun. Setia kepada asas, tujuan dan perjuangan perserikatan. Taat kepada garis kebijaksanaan pusat. Mampu dan cakap menjalankan tugas. Dapat menjadi teladan yang baik bagi umat. Tidak merangkap pimpinan organisasi politik, dan lain sebagainya. Adapun majelis, sebagai pembantu pimpinan perserikatan, dalam melaksanakan tugas sesuai dengan bidangnya, antara Pusat, Wilayah dan Daerah bisa berbeda. Artinya, ada majelis atau badan yang di tingkat Pusat diadakan, sedangkan di tingkat di bawahnya tidak perlu ada. Majelis atau badan yang ada di dalam Perserikatan Muhammadiyah sebelum Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta pada tahun 1985 terdiri atas: Majelis Tarjih. Majelis Tablig. Majelis Pembina Kesejahteraan Umat. Majelis Pendidikan dan Pengajaran. Majelis Hikmah. Majelis Ekonomi. Majelis Wakaf dan Kehartabendaan. Majelis Pustaka. Dalam perkembangannya kemudian, Majelis Pendidikan dan Pengajaran yang selama ini membawahi antara lain masalah pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi, dalam Muktamar Muhammadiyah ke-41 dibagi dua dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, yaitu: Majelis Pendidikan dan Kebudayaan, yang bertanggung jawab terhadap pendidikan mulai tingkat TK sampai tingkat SLTA. Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan perguruan tinggi, bidang penelitian, dan lain-lain. Pelaksanaan pembagian ini sangat mendesak karena jumlah sekolah-sekolah Muhammadiyah dari tingkat TK sampai perguruan tinggi sangat banyak, yang tidak mungkin lagi ditangani oleh satu majelis. Data sebelum Muktamar Muhammadiyah ke-41 menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Muhammadiyah berjumlah 12.400 lebih yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air yang terdiri atas pendidikan Muhammadiyah umum dan pendidikan agama. Dari jumlah tersebut tercatat 15 universitas dan 23 perguruan tinggi lainnya; sisanya adalah sekolah TK sampai tingkat SLTA (agama dan non-agama). Agaknya berdasarkan data inilah Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan perlu didirikan. Sedangkan untuk tingkat Wilayah, dan seterusnya ke bawah majelis ini tidak diperlukan, maka tidak didapati Diktilitbang ini di Wilayah.
 
Perkembangan Muhammadiyah
 
Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam besar di Indonesia, saat ini telah menjangkau seluruh wilayah Nusantara, Pertumbuhan ini dimulai sejak masa pemerintahan Hindia Belanda yang telah memberi izin kepada Muhammadiyah untuk berdiri di luar Yogyakarta melalui Surat Keputusan No. 36, tertanggal 2 September 1921. Dengan izin tersebut cabang-cabang Muhammadiyah bermunculan tidak saja di Pulau Jawa, tetapi juga telah menyeberang ke Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Di Sumatera Barat (Minangkabau) Muhammadiyah pertama kali didirikan di Sungai Batang Maninjau oleh Dr. Abdul Karim Amrullah pada tahun 1925. Cikal-bakal Muhammadiyah di Sumatera Barat ini adalah organisasi Sandi Aman yang didirikan oleh H. Abdul Karim Amrullah di Sungai Batang Maninjau pada pertengahan tahun 1924. Dalam waktu yang bersamaan Muhammadiyah juga didirikan di Padangpanjang oleh anak-anak muda, antara lain Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Akan tetapi, Muhammadiyah yang secara resmi berdiri di Sumatera Barat dengan pengakuan Hoffbestuur (jaksa) Muhammadiyah Yogyakarta adalah Muhammadiyah Cabang Padangpanjang dengan Ketetapan Hoffbestuur (HB) No. 36, tertanggal 20 Juli 1927, yang dipelopori oleh Saalah Yusuf Sutan Mangkuto dan Datuk Sati. Di Aceh pertama kali benih Muhammadiyah dibawa oleh Djajasukarta dan ia taburkan di Seutuy sekitar tahun 1922/1923. Namun benih ini semakin subur dan menampakkan dirinya setelah A.R. Sutan Mansur melawat ke Seutuy, Sigli, Lhokseumawe, dan Kualasimpang pada tahun 1927, sesudah Muktamar Muhammadiyah ke-16 di Pekalongan. Untuk Sumatera Timur, Muhammadiyah baru tumbuh pada tahun 1927, dibawa oleh orang-orang yang datang dari Tapanuli, Sumatera Barat dan Jawa. Para pendatang inilah yang buat pertama kali mendirikan cabang Muhammadiyah di Sumatera Timur. Untuk daerah Kalimantan, Muhammadiyah masuk melalui para saudagar yang datang ke sana. Perintis berdirinya Muhammadiyah di Kalimantan adalah H. Usman Amin yang berasal dari Alabio, Hulu Sungai Utara. Dari catatan sejarah yang ada H. Usman Amin dikenal sebagai anggota Muhammadiyah sejak tahun 1923, dan ia kembali ke Alabio pada tahun 1925. Dari Alabio Muhammadiyah masuk ke daerah Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, dibawa oleh seorang tokoh yang bernama Tamin pada tahun 1925, dan secara resmi menjadi Cabang Kuala Kapuas pada tahun 1927. Untuk Kalimantan Selatan, Muhammadiyah berdiri berkat pengaruh dari Muhammadiyah di Alabio dan pedagang Alabio yang memasuki Kalimantan Selatan, yaitu kota Banjarmasin yang mempropagandakan Muhammadiyah di sana. Mereka itu antara lain adalah Bastami Djantera. Untuk pertama kali Muhammadiyah di sana didirikan oleh seorang guru yang bernama Ushul di Teluktiram, Banjarmasin, pada tahun 1926, dan secara resmi Muhammadiyah di Banjarmasin menjadi cabang mulai tahun 1931, diresmikan langsung oleh A.R. Sutan Mansur.
 
Untuk daerah Kalimantan Timur dikenal ada dua cabang, yaitu Cabang Balikpapan dan Cabang Samarinda. Muhammadiyah di Balikpapan pertama kali diperkenalkan oleh H. Achmad Khudari, dan disambut oleh H. Dachlan, penduduk asli. Sedangkan untuk Martapura Muhammadiyah dibawa dari Banjarmasin oleh para mubaligh. Pendiri Muhammadiyah Martapura adalah KH. Muhammad Hasan Tjorong, yang kelak dikenal sebagai Konsul Hoffbestuur Ketua Majelis Perwakilan Pusat Pimpinan Muhammadiyah Daerah Kalimantan (Selatan, Tengah dan Timur). Untuk daerah Sulawesi, Muhammadiyah dipelopori oleh H. Abdullah yang dikenal sebagai seorang orator dalam bahasa Bugis yang jarang ada tandingannya ketika itu. Pada tahun 1928 M. Yunus Anis diutus Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke Sulawesi. Sejak saat itu Muhammadiyah makin berkembang di Sulawesi. Untuk kemapanan Muhammadiyah di Sulawesi, maka H. Abdullah meminta kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah agar HAMKA diutus dan tinggal di Sulawesi. Permintaan ini dikabulkan pada pertengahan tahun 1932. HAMKA dan keluarganya menetap di Sulawesi sampai tahun 1934. Dengan berkembangnya Muhammadiyah di seluruh pelosok Nusantara pada waktu itu, maka pembenahan organisasi secara menyeluruh mulai dilakukan sehingga struktur organisasi semakin baik.
 
Pola Dasar Perjuangan dan Program Dasar Perjuangan Muhammadiyah
 
Dalam melaksanakan usaha-usaha di berbagai bidang kehidupan, sebagai yang tercantum dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah Pasal 4 (11 butir) dan hasil penyesuaian dalam Muktamar Muhammadiyah ke-40 tahun 1978 di Surabaya, Muhammadiyah berpedoman pada Khittah Perjuangan yang terdiri atas dua pola, yaitu Pola Dasar Perjuangan dan Program Dasar Perjuangan. Pola Dasar Perjuangan Muhammadiyah terdiri atas: Muhammadiyah berjuang untuk mencapai/mewujudkan suatu cita-cita dan keyakinan hidup yang bersumber pada ajaran Islam; Dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar dalam arti dan proporsi yang sebenar-benarnya sebagaimana yang dituntunkan oleh Muhammad Rasulullah SAW adalah satu-satunya jalan untuk mencapai cita-cita dan keyakinan hidup tersebut. Dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar tersebut harus melalui dua saluran secara serempak, yaitu: (a) saluran politik kenegaraan (politik praktis); dan (b) saluran masyarakat. Untuk melakukan perjuangan dakwah Islam amar makruf nahi munkar seperti yang dimaksud di atas, dibuat alat-alatnya yang berupa organisasi, yaitu: (a) untuk saluran/bidang politik kenegaraan (politik praktis) dengan alat organisasi politik (partai); dan (b) untuk saluran/bidang masyarakat dengan alat organisasi non-partai; Muhammadiyah sebagai organisasi memilih dan menempatkan diri sebagai "Gerakan Islam dan Amar Makruf Nahi Munkar dalam Bidang Masyarakat." Sedangkan untuk alat perjuangan dalam bidang kenegaraan (poIitik praktis), Muhammadiyah menyerahkannya kepada partai politik di luar organisasi Muhammadiyah; Muhammadiyah harus menyadari bahwa partai tersebut adalah sasaran amar makruf nahi munkar; Antara Muhammadiyah dan partai tidak ada hubungan organisatoris tetapi tetap mempunyai hubungan kemasyarakatan; Masing-masing berdiri dan berjalan sendiri- sendiri menurut caranya sendiri-sendiri; dan Pada prinsipnya tidak dibenarkan adanya perangkapan jabatan, terutama jabatan pimpinan antara keduanya, demi tertibnya pembagian pekerjaan (spesialisasi). Program Dasar Perjuangan Muhammadiyah dirumuskan dalam langkah kebijaksanaan sebagai berikut: Memulihkan kembali Muhammadiyah sebagai perserikatan yang menghimpun sebagian anggota masyarakat yang terdiri atas muslimin dan muslimat yang beriman teguh, taat beribadah, berakhlak mulia dan menjadi teladan yang baik di tengah-tengah masyarakat. Meningkatkan pengertian dan kematangan anggota Muhammadiyah tentang hak dan kewajibannya sebagai warga negara Republik Indonesia dan meningkatkan kepekaan sosialnya terhadap persoalan-persoalan dan kesulitan hidup masyarakat; dan Menempatkan kedudukan Perserikatan Muhammadiyah sebagai gerakan untuk melaksanakan dakwah amar makruf nahi munkar ke segenap penjuru dan lapisan masyarakat serta disegala bidang kehidupan di Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
 
Rumusan Kepribadian Muhammadiyah
 
Dalam perjuangan dan pergerakannya di tengah-tengah masyarakat Indonesia, Muhammadiyah juga merumuskan kepribadiannya yang berfungsi sebagai landasan, pedoman, dan pegangan bagi gerak perjuangannya menuju cita-cita terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (sekarang masyarakat utama, adil dan makmur diridhai oleh Allah SWT). Kepribadian Muhammadiyah ini berawal dari pidato KH. Fakih Usman, seorang tokoh Muhammadiyah pada tahun 1961, yang ia beri judul Apakah Muhammadiyah ltu? Pidato ini disampaikan di depan peserta kursus pimpinan Muhammadiyah seluruh Indonesia dan mendapat tanggapan yang serius dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang membentuk tim perumus materi "Kepribadian Muhammadiyah" tersebut. Bahan-bahan untuk penyusunan rumusan Kepribadian Muhammadiyah ini berasal dari KH. Fakih Usman, KH. Farid Ma'ruf, KH. Wardan Diponingrat, Dr. HAMKA, H. Djarnawi Hadikusumo, M. Djindar Tamimy, dan M. Saleh Ibrahim. Rumusan Kepribadian Muhammadiyah tersebut adalah sebagai berikut: Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan. Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah islamiyah. Berlapang dada dan berpandangan luas dengan memegang teguh ajaran Islam. Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan. Mengindahkan segala hukum, undang-undang dan peraturan serta dasar dan filsafat negara yang sah. Amar makruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang baik. Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud islah dan pembangunan sesuai dengan ajaran Islam; Bekerjasama dengan golongan Islam mana pun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya. Membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negara untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur yang diridhai Allah SWT. Bersifat adil serta korektif ke dalam dan ke luar dengan bijaksana.
 
Hasil rumusan Kepribadian Muhammadiyah ini disahkan oleh Sidang Tanwir Muhammadiyah yang diadakan pada tanggal 25-28 Agustus 1962, dan dibawa ke dalam Muktamar Muhammadiyah ke-35 serta diterima sebagai pegangan organisasi Muhammadiyah dan sekaligus sebagai ciri-ciri dan sifat Muhammadiyah. Kemudian, rumusan matan Kepribadian Muhammadiyah ini mendapat perubahan dan perbaikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah atas kuasa Sidang Tanwir tahun 1970 di Yogyakarta, dan disesuaikan dengan keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta.
 
Maksud dan Tujuan Muhammadiyah
 
Rumusan "Maksud dan Tujuan Muhammadiyah," sejak berdirinya sampai sekarang, telah mengalami perubahan sebanyak enam kali. Disamping dimaksudkan untuk menyesuaikan gerak perjuangan yang akan dicapai Perserikatan Muhammadiyah dengan program yang dihasilkan, perubahan ini juga disebabkan ini paling penting oleh penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan berdasarkan keinginan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
 
Penyesuaian-penyesuaian Maksud dan Tujuan Muhammadiyah tersebut secara berurutan adalah sebagai berikut: Pada awal berdirinya, Maksud dan Tujuan Muhammadiyah dirumuskan sebagai berikut:
 
(a) menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumiputra di dalam Karesidenan Yogyakarta; dan (b) memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya. Setelah Muhammadiyah meluas ke luar daerah Yogyakarta, dan setelah berdirinya beberapa cabang di wilayah Indonesia, rumusan Maksud dan Tujuan Muhammadiyah disempurnakan menjadi: (a) memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Belanda; dan (b) memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang kemauan agama Islam kepada sekutu-sekutunya. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), sesuai dengan keinginan Jepang, rumusan Maksud dan Tujuan Muhammadiyah berbunyi: "Sesuai dengan kepercayaan untuk mendirikan kemakmuran bersama seluruh Asia Timur Raya di bawah pimpinan Dai Nippon, dan memang diperintahkan oleh Tuhan Allah SWT, maka perkumpulan ini: (a) hendak menyiarkan agama Islam serta melatihkan hidup yang selaras dengan tuntutannya; (b) hendak melakukan pekerjaan kebaikan umum; dan (c) hendak memajukan pengetahuan dan kepandaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya; kesemuanya ini ditujukan untuk berjasa mendidik masyarakat ramai.".
 
Setelah masa kemerdekaan, dalam Muktamar Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950, rumusan Maksud dan Tujuan Muhammadiyah dirubah dan disempurnakan sehingga lebih mendekati jiwa dan gerak yang sesungguhnya dari Muhammadiyah, dan berbunyi: "Maksud dan Tujuan Persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.". Maksud dan Tujuan Muhammadiyah hasil Muktamar Muhammadiyah ke-34 pada tahun 1959 merupakan penyempurnaan dari Maksud dan Tujuan Muhammadiyah hasil Muktamar Muhammadiyah ke-31 pada tahun 1950. Penyempurnaan ini hanya mengubah dua kata, yaitu kata "dapat mewujudkan" diubah menjadi "terwujud". Selengkapnya, Maksud dan Tujuan Muhammadiyah hasil Muktamar Muhammadiyah ke-34 tahun 1959 tersebut adalah: "Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.". Setelah keluarnya Undang-Undang No. 8 tahun 1985 yang mewajibkan organisasi kemasyarakatan mencantumkan satu asas, yaitu Pancasila, maka terjadilah perubahan asas Muhammadiyah dari "Islam" menjadi "Pancasila". Akibatnya, rumusan Maksud dan Tujuan Muhammadiyah juga berubah. Perubahan ini dihasilkan melalui Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta, menjadi: "Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala." Tujuan Muhammadiyah sebagai yang dikemukakan di atas menjadi titik tolak dalam merumuskan landasan ideal atau landasan cita-cita Muhammadiyah yang disebut dengan "Keyakinan dan Cita- Cita Hidup Muhammadiyah." Landasan ideal ini memberikan gambaran tentang pandangan hidup Muhammadiyah, tujuan hidup Muhammadiyah, serta metode untuk mencapai tujuan hidup tersebut. Matan "Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah", yang dirumuskan dalam Sidang Tanwir (institusi tertinggi dalam Muhammadiyah, setingkat di bawah muktamar) pada tahun 1978 menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-37 di Yogyakarta, memuat prinsip-prinsip sebagai berikut: Muhammadiyah adalah gerakan yang berasaskan Islam, bekerja dan bercita-cita untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya untuk melaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah di muka bumi. Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah SWT yang diwahyukan kepada para rasul-Nya sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan seterusnya sampai kepada nabi penutup Muhammad SAW, sebagai hidayat dan rahmat Allah SWT kepada umat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan material dan spiritual, duniawi dan ukhrawi. Muhammadiyah mengamalkan Islam berdasarkan aI-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW serta menggunakan akal pikiran sesuai dengan ajaran Islam. Muhammadiyah bekerja demi terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah (kemasyarakatan) duniawi.
 
Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat kurnia Allah SWT, berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan negara Republik Indonesia yang berfilsafat Pancasila, untuk berusaha bersama-sama menjadikannya suatu negara adil dan makmur yang diridai Allah SWT . Kelima butir matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, dalam penjelasannya, mengandung tiga pokok persoalan, yaitu ideologi pada butir (1) dan (2), paham agama menurut Muhammadiyah pada butir (3) dan (4), dan fungsi serta misi Muhammadiyah dalam masyarakat Negara Republik Indonesia pada butir (5).
 
 

Add comment


Security code
Refresh

Aktivitas Kami
RCK - Pengenalan Internet (1)
RCK - Pengenalan Internet (2)
RCK - Pengenalan Internet (3)
RCK - Pengenalan Internet (4)
RCK - Pengenalan Internet (5)
RCK - Pengenalan Internet
RCK - Pengenalan Komputer (1)
RCK - Pengenalan Komputer (2)
RCK - Pengenalan Komputer (3)
RCK - Pengenalan Komputer (4)
RCK - Pengenalan Komputer (5)
RCK - Pengenalan Komputer (6)
RCK - Pengenalan Komputer (7)
RCK - Pengenalan Komputer (8)
RCK - Pengenalan Komputer (9)
RCK - Pengenalan Komputer
Modul Khusus Anggota
Login Register





Masuk
Create an account